

Sumber : Pos Belitung/Hamdani
ANTU kudong antu kudong Jangan langkaek aku Kini kuberik minyak angin sebutul NITA bertutur. Cerita berjudul Takut Kan Antu Tepelok Kan Bangkai buah karya budayawan Fithrorozi mengalir dari bibirnya.
Mengenakan kebaya warna coklat dan rambut dikepang dua, pelajar SMPN 2 Tanjungpandan itu bercerita dengan cara atraktif. Ia melampiaskan ekspresi melalui bahasa, mimik wajah serta gerakan tangan.
Nita adalah salah satu dari 21 peserta lomba cerita rakyat Belitung yang digelar SMPN 2 Tanjungpandan, Senin (21/12). Para peserta yang berasal dari SMP dan SMA se-Kabupaten Belitung ini diharuskan menceritakan salah satu dari lima judul cerita yang disiapkan. Cerita-cerita karya Fithrorozi ini biasanya ditampilkan dalam rubrik Ngenjungak di Harian Pagi Pos Belitung edisi Minggu.
Lima judul cerita tersebut itu adalah Takut Kan Antu Tepelok Kan Bangkai, Kebuloran, Bila Saram Dusta, Masok Ambong Dak Masok Itong, serta Lepat Pulas Pekatik Mak Panggong. Selain menuturkan cerita keseharian masyarakat Belitung, para peserta memperkuat nuansa Belitung melalui penampilannya. Salah satunya dengan pakaian bernuansa Belitung yang memang diwajibkan oleh panitia.
Tim juri yang terdiri dari para pemerhati budaya Belitung, yakni Rosihan Sahib, Fithrorozi serta Rahini pun lekat-lekat mengamati penampilan tiap peserta. Mereka menyimak kriteria penilaian yang mencakup konteks, intonasi, dialog, juga penampilan.
Kepala SMPN 2 Tanjungpandan Nuraini kepada Grup Bangka Pos di sela kegiatan menuturkan ide lomba ini berawal dari rutinitasnya membaca Pos Belitung edisi Minggu, termasuk rubrik Ngenjungak. Membaca Ngenjungak, kata Nuraini, bisa dipahami dalam hati. Akan tetapi setelah disuarakan ternyata kaku dan ada isi kata-kata yang tidak dimengerti.
“Nah, apalagi dengan yang muda-muda? Karena kebanyakan anak-anak muda ini merasa tidak gaul pakai bahasa itu. Jadi saat terpikir akan hal itu langsung mengontak Fithrorozi, sang penulis, untuk mempertanyakan boleh tidaknya kalau seandainya dilombakan. Dilombakan pasti seru,” tutur Nuraini.
Setelah mendapat tanggapan positif dari Fithrorozi, Nuraini langsung meminta pendapat guru-guru bahasa Indonesia dan ternyata juga mendapat dukungan. Lalu tersusunlah acara lomba cerita Rakyat Belitung ini yang merupakan hasil kerjasama guru, OSIS, didukung penulis cerita, serta Harian Pos Belitung.
Melalui lomba tersebut bisa diukur sejauhmana pemahaman para pelajar terhadap bahasa Belitung. “Mudah-mudahan dari kegiatan ini memunculkan motivasi tentang pemikiran baru dari pihak-pihak yang berkompeten di bidang ini. Untuk berpikir apa yang sudah kita lakukan untuk budaya kita,” harap Nuraini.
Peduli Budaya Beberapa pelajar yang ditemui harian ini menyatakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari bukan berarti menunjukkan seseorang ‘tidak gaul’. Pemakaian bahasa daerah justru dapat mecerminkan kepedulian dan sikap melestarikan budaya daerah. Bahkan sejak suksesnya film Laskar Pelangi, ada orang-orang yang sebelumnya jarang berbahasa Belitung karena tinggal di luar daerah, malah jadi ingin terus berbahasa Belitung.
“Menggunakan bahasa Belitung bukan berarti tidak gaul. Saudara saya gara-gara nonton Laskar Pelangi jadi pengen terus pakai bahasa Belitung,” kata Nita, pelajar SMPN 2 Tanjungpandan, di sela lomba cerita Rakyat Belitung, Senin (21/12).
Nita merasa bahasa Belitung tidaklah tergolong sulit dan mudah dipelajari. Pelajar kelas VIII ini dalam kesehariannya biasa bercakap-cakap memakai bahasa Belitung. Bahasa Indonesia juga tetap ia gunakan, misalnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Aldi, pelajar SMAN 2 Tanjungpandan, juga merasa penggunaan bahasa Belitung dalam kehidupan sehari-hari tidaklah menunjukkan bahwa seseorang itu tak modern.
“Tidak seperti itu,” kata Aldi yang berpartisipasi sebagai peserta dalam lomba cerita rakyat Belitung. Aldi tetap menggunakan bahasa Belitung dalam komunikasi sehari-hari. Sedangkan Bahasa Indonesia biasanya ia pakai untuk keperluan formal, seperti kegiatan belajar di sekolah. Jika sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia, Aldi merasa bahasanya akan campur aduk dengan bahasa Belitung yang sering spontan terucap. Kadang-kadang jika Aldi melontarkan kosa kata dalam bahasa Belitung yang mungkin pada sebagian teman lainnya agak terdengar asing, maka kata-kata itulah yang akhirnya sering digunakan. “Bahasa Belitung tidak susah,” katanya.
Menurut Aldi, ada sebagian kata-kata dalam bahasa Belitung yang terkadang tidak ia mengerti, seperti beberapa kosa kata yang ia temukan dalam kolom Ngenjungak karya Fithrorozi. Namun hal itu ia siasati dengan cara bertanya pada orang tuanya.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Ria Permata dari SMPN 1 Sijuk terpilih menjadi juara pertama kategori SMP, Nita Inggrianti dari SMPN 2 Tanjungpandan sebagai juara kedua, dan Rendi Dwi Okta dari SMPN 4 Tanjungpandan sebagai juara ketiga.
Untuk kategori SMA, juara pertama diraih Lestari dari SMA PGRI Tanjungpandan. Juara kedua oleh Leni dari MAN Tanjungpandan dan juara ketiga oleh Desi Indriyani dari SMKN 1 Tanjungpandan. Para juara mendapat hadiah berupa tropi, uang pembinaan, piagam serta novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Seluruh peserta juga mendapat piagam tanda kepesertaan lomba. (vid)
Dikutip dari : Pos Belitung
