
Bila dilihat sepintas, orang mungkin tak akan menyangka sahabatku ini adalah seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi ternama. Penampilannya begitu sederhana, tapi bila sudah menjelaskan tentang sesuatu, ruang pemikiran kita langsung membuka lebar, melebihi apa yang disampaikannya.
Harton adalah satu dari sekian banyak orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu, ruang dan kesempatan. Berbekal ilmu tentang perikanan air tawar yang sudah lama digelutinya mulai dari bangku kuliah hingga menjadi dosen, akhirnya sahabatku ini membuka sebuah usaha yang sangat menjanjikan.
Halaman belakang rumahnya seluas kurang lebih 200 m2 disulap menjadi lahan budi daya ikan hias merangkap ‘ruang praktikum’, ‘ruang seminar’, tempat kumpul-kumpul, sekaligus sebagai ‘etalase’ raksasa.
Ia memulai bisnisnya dari melakukan pengembiakkan ikan hias melalui penyuntikan hormon fertilitas untuk merangsang pembuahan. Awalnya dengan mengembangbiakkan ikan guppi, sejenis ikan hias yang sering di cari anak-anak di saluran-saluran air untuk dipelihara di dalam toples.
Seiring makin bertambahnya keyakinan dan pengalaman akhirnya membawa Harton kepada budi daya ikan hias yang jauh lebih berkelas dan lebih bernilai, yaitu ikan alligator. Pada saat itu harga ikan ini cukup mahal di pasaran ikan hias. “Alhamdulillah berkat ikan alligator ini, kami bisa membeli rumah” kenang Bang Harton dengan nada merendah.
Sampai saat ini mungkin sudah puluhan jenis ikan hias yang sudah dipeliharanya. Ada satu jenis ikan yang menarik perhatian yaitu ikan hias yang dijuluki “Dr. Fish”. Ya, ikan yang menjadi ‘dokter’ alias ikan yang bisa memberikan terapi penyembuhan khususnya pembersihan atau pengangkatan kulit mati. Menurut Harton, ikan ini berasal dari negeri Turki, dalam bahasa Turki namanya “Garra Rufa”. Bentuknya tubuhnya sepintas mirip ikan kemuring yang biasa dipakai masyarakat di Belitong sebagai umpan “bebanjor”.
Bang Harton memang bertangan dingin untuk berurusan dengan ikan. Saat kami berbincang dihalaman belakang rumahnya Minggu sore itu, terlihat bagaimana ia ‘berinteraksi’ dengan ikan-ikan patin berukuran besar saat melemparkan makanan ikan berupa konsentrat. Dari bahasa tubuhnya aku menduga, boleh jadi bagi Harton, mungkin pada moment seperti inilah sebagian saat terindah dalam hidupnya. Saat-saat memandangi dan ‘bercengkrama’ dengan ikan-ikan peliharaan mungkin bisa menjadi semacam hiburan guna menghilangkan kejenuhan.
Hari itu kami berdiskusi tentang banyak hal. Sampai kepada cara beternak ikan lele, gara-gara tak sengaja menjumpai buku tentang usaha itu di ruang tamu. Semakin dijelaskan, semakin kami kagum dan termotivasi. Sampai akhirnya tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 5.
Sore yang indah itu segera berganti malam. Esok pagi Bang Harton akan kembali mengabdi pada negara dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa, bertemu dengan para mahasiwanya untuk memberikan kuliah. Dua ‘dunia’ saling berebut perhatian namun Pak Dosen Harton sangat bijak membagi waktu. Sesekali ia meluangkan waktu untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan para sahabatnya. Kendati demikian ‘roda’ tetap berputar di halaman belakang.
( Taman Pagelaran, Minggu 28 Maret 2010 )