Foto Aba kami ( sumber : wartapraja.wordpress.com)
Ini sebagian pengalaman berharga masa kecilku. Dulu saat aku masih kecil kuanggap apa yang dilakukan Aba –panggilan kami untuk ayah– adalah sesuatu yang biasa. Tak lebih dari sekadar menciptakan sebuah kejutan sekaligus ingin memberikan sesuatu secara diam-diam.
Baru setelah dewasa, berumah tangga dan mempunyai anak, aku jadi mengerti bahwa apa yang beliau lakukan puluhan tahun lalu itu ternyata mengandung pesan pendidikan yang sangat bernilai.
Aba kami adalah seorang guru SD. Dan lazimnya para pendidik yang lain, beliau banyak mengoleksi berbagai buku. Sebagian diantaranya adalah buku-buku literatur yang dapat memperkaya wawasan beliau buat disampaikan kepada murid-muridnya saat mengajar, mulai dari ilmu pedagogik sampai kepada kisah dongeng. Salah satunya tentang kisah novel terjemahan berjudul “Baron Van Ovheysen”. Kisah-kisah jenaka pada buku ini seringkali beliau ceritakan pada kami dengan tenik bercerita yang sangat menarik.
Berbagai buku koleksi beliau itu disimpan pada sebuah lemari buku yang diletakkan menghadap ruang tamu, menempel pada dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ada dua pemikiran yang cukup masuk akal menurutku tentang mengapa lemari buku itu beliau letakkan sedemikian rupa disitu. Pertama, karena keterbatasan ruangan sehingga mungkin itulah tempat yang paling baik dirumah kami buat menempatkan lemari buku itu, selain dapur dan kamar tidur. Yang kedua dengan meletakkannya dilokasi tersebut maka lemari buku menjadi benda yang paling gampang dilihat atau menarik perhatian setiap kali memasuki rumah.
Saat aku masih SD dulu, oleh karena keterbatasan wawasanku, tak banyak buku-buku beliau yang dapat kumengerti isinya. Namun suatu hal yang menarik adalah Aba seringkali memasukkan lembaran uang kertas seratus rupiah di dalam halaman salah satu buku. Polanya berganti-ganti dari satu buku ke buku yang lain dengan jarak kira-kira sebulan sekali. Sebagai ukuran, dengan nilai uang seratus rupiah pada masa itu kami bisa membeli es sebanyak 20 potong. Jumlah yang cukup besar bila digunakan sebagai uang jajan sekolah.
Pernah sekali waktu kuceritakan tentang ‘penemuan’ ku tentang uang itu pada Aba. Beliau tak banyak berkomentar. Hanya mengisyaratkan bahwa beliau telah mengikhlaskan uang itu. Disisi lain aku juga selalu menjaga agar setelah uang didalamnya ‘kuamankan’ maka sebisa mungkin susunan buku di lemari itu kembali seperti semula. Ketika kuceritakan bagaimana kegembiraanku mendapatkan ‘rezeki’ itu pada Umak–panggilan kami untuk ibu–, Umak berkesimpulan bahwa lembaran uang itu memang sengaja diletakkan Aba di dalam buku sebagai simpanan khusus bila sewaktu-waktu beliau kehabisan uang.
Kini 30 tahun sudah berlalu. Dan anak kami yang kedua laki-laki pun sudah berusia sama dengan usiaku dulu saat peristiwa ‘rezeki’ didalam buku itu. Baru terpikirkan olehku, boleh jadi lembaran uang seratus rupiah yang dulu selalu beliau selipkan dalam buku itu adalah sebuah cara untuk memotivasi kami agar mencintai buku dan gemar membaca.
