Dalam lingkup keanekaragaman hayati dan hasil bumi di Belitong, salah satu yang mungkin akrab ditelinga kita saat tiba musim buah-buahan adalah sebuah tempat yang disebut dengan Kelekak.
Kelekak adalah istilah masyarakat Belitong untuk sebuah hutan kecil yang banyak ditumbuhi oleh tanaman buah musiman yang mana melalui kepemilikan secara adat dianggap menjadi milik salah seorang anggota masyarakat setempat.
Umumnya tanaman buah yang mendominasi kelekak adalah durian, duku, langsat atau manggis . Tanaman buah-buahan ini disamping ada yang memang sengaja ditanam oleh sang pemiliknya adapula yang tumbuh dengan sendirinya secara alami.
Sekedar bernostalgia, berikut saya sampaikan beberapa istilah lama yang umum dipakai di lingkungan Kelekak.
Pundok
Pundok adalah gubuk kayu yang dibangun pemilik di dalam kelekak untuk
bermalam atau beristirahat. Sekaligus sebagai gudang penyimpanan sementara buah-buahan.
Ngerepak
Istilah ini khusus dipakai untuk tanaman durian. Ngerepak adalah kegiatan menunggu durian yang jatuh atau repak dari pohon. Oleh karenanya durian yang dijual di Belitong umumnya berkualitas baik karena terdiri dari buah durian yang telah matang di pohon.
Untuk kegiatan ngerepak ini biasanya para petani akan menginap barang 1-2 malam di pundok kelekak. Setelah buah-buah durian hasil ngerepak sudah terkumpul cukup banyak, kemudian secara bertahap dibawa ke kampung sebagai konsumsi keluarga dan handai taulan atau dibawa ke pasar untuk di jual.
Muang Burok
Istilah ini dipakai untuk menyatakan buah-buahan ( biasanya durian ) yang termasuk dalam kelompok buah-buah yang pertama kali matang. Buah yang masuk dalam kelompok Muang Burok ini biasanya memiliki kualitas buah yang kurang bagitu baik. Masyarakat juga percaya bahwa bunga durian yang pertama kali muncul dalam tiap musim dan kemudian menjadi buah adalah bunga-bunga yang secara kualitas masih belum sempurna. Maklum pembuahan pada awal musim rentan terhadap pengaruh iklim pancaroba, baik oleh hujan dan angin maupun oleh serangan hama. Disamping itu periode pembuahan di awal musim dianggap masih belum memasuki masa pembuahan yang paling baik untuk menghasilkan buah yang optimal.
Oleh karenanya buah-buah yang dihasilkan dari bunga pertama ini bisa diartikan buah-buah yang memang dianggap rusak ( burok ) oleh pohon durian itu sendiri atau dengan ‘sengaja’ terpaksa dikorbankan sebagai tumbal untuk kebaikan pada buah berikutnya.
Buah Ujong
Kebalikan dari istilah Muang Burok. Istilah Buah Ujong ini dipakai untuk menyatakan buah-buahan ( biasanya durian ) yang termasuk dalam kelompok buah yang terakhir
kali matang. Berlawanan dan buah Mung Burok, buah Ujong adalah buah yang bunganya baru muncul setelah musim berbuah akan berakhir. Sehingga buah yang dihasilkan pada periode ini termasuk kategori buah yang proses pembuahannya melewati masa yang paling tepat. Sama seperti Muang Burok, buah-buahan yang masuk dalam kelompok Buah Ujong juga memiliki kualitas buah yang kurang baik.
Mempirangan
Istilah ini dipakai khusus untuk buah manggis yang sedang dalam perkembangan buah mencapai matang atau dengan kata lain buah setengah matang. Buah manggis dalam masa mempirangan ini biasanya berwarna merah muda.
Nuto
Nuto adalah istilah yang untuk meregenerasi cabang pohon yang baru, biasanya istilah ini dipakai untuk tanaman rambutan.
Setelah berbuah dan dipanen, masyarakat pemilik tanaman akan membersihkan dahan yang berbuah lalu memotong atau memangkas dahan yang pernah berbuah tadi agar memancing kembalinya cabang baru untuk menghasilkan buah pada musim berbuah tahun depan.
Dahan yang di tuto biasanya adalah dahan pohon yang mencuat atau menjulang keatas, sehingga diharapkan nantinya dengan seringnya nuto maka pertumbuhan pohon diharapkan tidak menjadi semakin tinggi akan tetapi melebar, rindang sekaligus merendah sehingga memudahkan proses pemetikan.
( Sumber inspirasi : Sutra Indaini )
