Feeds:
Tulisan
Komentar

BEREBUT LAWANG

Sepintas istilah ini seperti mengandung konotasi negatif, yakni memperebutkan lawang ( pintu ). Kenyataannya memang  tidak ada lawang secara kebendaan yg diperebutkan.

Entah sejak kapan istilah ini dikenal oleh masyarakat Belitong, namun yang jelas istilah berebut dipakai utk menegaskan bhw sesuatu harus didapatkan melalui perjuangan atau dlm hal ini perebutan, seperti missal orang berjuang dan berlomba memperebutkan piala bergilir.

Sesuatu yg diperebutkan atau diperjuangkan itu sesungguhnya  adalah sebuah nilai. Pada lawang pertama, wakil mempelai laki-laki akan ‘berebut’ dengan  Tukang Tanak utk memperjuangkan nilai ttg kebutuhan utama sebuah keluarga yakni sandang pangan. Apabila urusan Lawang pertama selesai maka selanjutnya mempelai laki-laki akan berhadapan dengan urusan Lawang kedua.

Pada lawang kedua, mempelai laki-laki  berhadapan dengan seorang yang disebut Pengulu Gawai ( pimpinan panitia hajatan ) utk memperjuangkan nilai ttg bagaimana membentuk, membangun dan memelihara sebuah kepemimpinan dalam rumah tangga dgn cara-cara yg berlandaskan tuntunan agama, budaya  dan adat istiadat.

Untuk lawang ketiga atau lawang terakhir, mempelai pria akan berhadapan seorang tukang rias pengantin yang disebut dengan Mak Inang, untuk memperjuangkan nilai-nilai yang mewakili segala hal tentang keperluan seorang istri, utamanya adalah cinta dan kasih sayang. Oleh karenanya Mak Ianang selalu menyambut mempelai pria tepat di depan kamar tidur yg jaraknya selalu tak pernah jauh dari pelaminan, tempat bersanding kedua mempelai. Dua hal dan dua lokasi berdekatan yg memperlambangkan keharmonisan rumah tangga.

( Dari Sarasehan mengenai Eksistensi ‘Berebut Lawang’ dalam perkawinan adat Belitung, Rumah Adat Belitong, 21 Maret 2013 )

Setiap saat aku  mengenang masa kecil, saat itu pula aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Masa kecilku dulu kurasakan bagitu  indah serta sarat akan berbagai pengalaman berharga dan berkesan. Pengalaman masa kecil yang mungkin tak akan pernah bisa dinikmati oleh anak laki-laki kami saat ia seusiaku mengingat kondisi alam dan lingkungan tempat tinggal yang sangat jauh berbeda.

Dalam hal lain akupun  merasa jauh beruntung di banding kedua anak-anakku. Ini menyangkut  frekwensi serta lamanya waktu untuk selalu bersama dengan ayahnya. Inilah yang membuat kedekatanku dengan Aba dan banyak sekali pengalaman yang kuingat bersama beliau. Betapa Allah Yang Maha Pemurah telah melimpahkan karunianya padaku melalui  pekerjaan beliau.

Ayahku–Aba kami memanggilnya– adalah seorang guru di Sekolah Dasar tempatku bersekolah dulu.  Jadi selama 6 tahun bersekolah  di SD,  praktis tiap hari kami selalu bersama baik dirumah maupun di sekolah. Bahkan karena memboceng sepeda beliau, maka saat berangkat dan pulang sekolah kami pun selalu bersama-sama. Seingatku di baru di kelas 5  aku ke sekolah dengan sepeda sendiri.

Oleh karena masa libur sekolahku bersamaan dengan masa libur kerja beliau,  kamipun  selalu libur pada saat  yang bersamaan. Dulu, buat mengisi liburan Aba sering mengajakku menangkap ikan atau berburu burung dengan   menggunakan cara  dan peralatan tradisional. Dalam kesempatan seperti ini Aba sering mengajarkan berbagai hal padaku. Utamanya tentang bukti-bukti kebesaran Sang Maha Pencipta. Disamping itu  beliau banyak menjelaskan segala hal ihwal yang harus kuketahui tentang tanah kelahiranku, Belitong. Diantaranya pengenalan terhadap berbagai jenis keanekaragaman hayati khas pulau kami,  pengenalan terhadap sosial budaya dan perilaku  masyarakat kami, serta tentang nilai-nilai moral dari kearifan tradisional yang berlaku turun temurun dalam kehidupan masyarakat kami. Kelak kemudian hari setelah dewasa baru kusadari bahwa yang  telah beliau ajarkan padaku saat itu ternyata membawa dampak yang sangat besar dalam cara berpikir atau cara pandangku tentang kehidupan dan alam lingkungan.

Kebetulan kampung tempatku lahir dan dibesarkan– Gang Perai,  Tanjongpandan–hingga masih bisa dijumpai lingkungan hutan kecil dengan aneka tumbuhan. Disamping itu masyarakatnya pun sangat plularis dan bersahaja dalam kesehariannya. Disamping itu, dulu kami memiliki sebuah ladang  dimana  sisi ladang kami itu berbatasan langsung dengan hutan dan kali kecil. Dengan demikian lingkungan rumah dan lingkungan ladang  kami itu bagiku menjadi semacam sekolah alam atau lokasi ‘outbond’ yang menarik.

Banyak kenangan masa kecilku yang berkesan bersama Aba. Dan aku ingin bercerita lebih jauh tentang kekanganku bersama beliau yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidup.

Memasang Bubu dan Tekalak

Kali kecil yang mengalir ditepi ladang kami  itu lebarnya tak lebih 2 meter dengan kedalaman  sekitar 1 meter. Airnya sangat jernih sehingga  bila saat alirannya  sedang tenang,  dasar kali dan ikan-ikan kecil seperti ikan ban atau ikan tawes  atau Ikan Kemuring dapat  dilihat dengan jelas dari tepian kali. Orang-orang yang tinggal di sekitar ladang kami menamakan kali kecil itu Aik Baik. Mungkin maksudnya aliran air yang dapat mendatangkan kebaikan.

Aik Baik memiliki banyak parit-parit kecil dengan lebar antara 20 sampai 30 sentimeter.  Parit-parit kecil itu  sengaja dibuat peladang untuk mengairi ladang mereka. Kebanyakan parit-parit itu masih terawat baik namun sebagian ada yang sudah mulai tertutup oleh tumbuhan perdu atau semak belukar. Biasanya kondisi parit  yang tak terawat ini karena telah ditinggalkan oleh para peladang terdahulu.

Selain parit-parit buatan, adapula parit yang lebih kecil bentukan alam. Seperti misalnya oleh akibat rembesan air secara terus menerus.  Parit-parit kecil ini berhulu pada sumber air yang ada di dasar hutan lalu bermuara ke aliran Aik Baik. Parit-parit bentukan alam inilah yang menyumbangkan debit air ke Aik Baik selain tentunya karena ada hujan di bagian hulu. Sering para peladang menangkap berbagai jenis ikan air tawar di parit-parit kecil ini. Sebut saja diantaranya ikan Kelik atau ikan lele. Lalu ikan Mengkawak atau  ikan Gabus.

Untuk menangkap ikan sepanjang aliran parit-parit kecil ini,  peladang memakai  dua macam alat penangkap ikan tradisional yang kami namakan Bubu dan Tekalak.

Bubu berbentuk tabung dengan diameter sekitar 25 cm. Dibuat dari anyaman pohon resam, sejenis tumbuhan paku yang berbatang lurus mirip kawat tembaga. Rata-rata diameter satu batang paku resam bergaristengah sekitar 1 milimeter. Selain digunakan orang sebagai bahan pembuat bubu, paku resam juga digunakan orang untuk membuat sungkok atau peci. Kami menyebutnya  sungkok resam.

Bubu ini dipasang berlawanan dengan arah aliran air. Salah satu ujung yang disebut mulut bubu dibiarkan terbuka untuk menjebak ikan-ikan agar masuk. Bentuk mulut bubu ini makan mengecil pada bagian dalam. Ssusunan resam pada bagian dalam diraut tajam. Tujuannya adalah untuk menghalangi ikan-ikan yang sudah terperagkap masuk bisa keluar lagi.  Sementara ujung bubu yang lain digunakan sebagai pintu untuk mengeluarkan ikan-ikan hasil tangkapan.

Tekalak berukuran lebih kecil,  oleh karena itu dipasang pada aliran air yang lebih sempit dibandingkan tempat memasang bubu. Bentuknya tidak silindris seperti melainkan mengerecut dan berlekuk mirip alat musik terompet. Tekalak dibuat dari anyaman bambu dan tidak memiliki pintu. Ikan-ikan hasil tangkapan dikeluarkan dengan pelan-pelan dari ujung atau pintu yang sama pada saat ikan masuk. Untuk mencegah ikan yang sudah terperangkap  bergerak keluar, didalamnya dipasang beberapa tangkai tumbuhan berduri yang telah kering.

Lazimnya para pemasang Bubu atau Tekalak ini adalah para peladang mengingat penangkapan ikan dengan alat ini lebih sebagai kerja sambilan. Hasilnya pun juga spekulatif karena peladang hanya memeriksa Bubu atau Tekalak itu saat akan pulang dari ladangnya. Oleh sebab itu dapatlah dikatakan  bahwa pekerjaan memasang Bubu atau Tekalak bagi para peladang , seperti Aba misalnya, hanyalah sebagai pekerjaan sampingan atau nilai tambah dari pekerjaan berladang. Dengan kata lain tidak ada orang yang khusus bermata pencaharian dari memasang Bubu atau  Tekalak.

Menurut Aba ada semacam kebijakan  tak tertulis dalam masyarakat, yaitu apabila suatu parit sudah dipasangi Bubu atau Tekalak oleh seorang peladang maka tidak etis rasanya dipasangi lagi oleh peladang lain. Lalu ada pula semacam aturan bahwa orang yang bukan pemiliknya tidak boleh memeriksa apalagi sampai mengambil ikan yang terperangkap didalamnya tanpa seizin pemiliknya.

Tidak jelas sangsi atas larangan tersebut, namun sejauh ini masyarakat sangat mentaatinya. Demikianlah kearifan masyarakat jaman dulu kata Aba. Orang dahulu  tidak terlalu mempersoalkan legilitas formal sebuah aturan akan tetapi hanya berfikir bahwa setiap kebiasaan yang baik atau aturan yang telah disepakati bersama tentu mempunyai tujuan yang baik.

Dalam khasanah budaya asli Belitong, Bubu dipakai dalam pertunjukan Antu Bubu. Pertujukan budaya bernuansa mistis ini menampilkan kisah para pendekar dengan kesaktiannya berupaya untuk  menaklukan hantu yang bersemayam di dalam bubu atau Antu Bubu.

Sementara seorang Penyair dan Budayawan asli Belitong, Alm. H. Abdul Hadi  pernah mengajarkan sebuah syair pendek yang ada hubungannya dengan Bubu dan Tekalak ini.

“Sang-sang Bubu Tekalak kenak siang”
“Sape dak merik aku ku antokkan jok tiang”
Artinya,  alkisah Bubu dan Tekalak mengena ( mendapatkan ikan ) di waktu siang. Siapa yang tidak memberi/membagiku, akan kubenturkan (kepalanya) di tiang.

Melihat orang membuat Gule Kirik ( Gula Aren )

Untuk mencapai ladang, terlebih dulu kami berbelok dari jalan sebuah kampung bernama Aik Serekuk. Setelah itu  melewati sebuah jalan setapak yang hanya bisa lalui oleh sepeda atau sepeda motor.

Tepat di sisi kanan tikungan jalan tempat kami berbelok dari arah jalan kampung itu terdapat sebuah rumah panggung sederhana  yang dindingnya dari  kulit kayu lalu atapnya  daun rumbia. Rumah itu adalah rumah terakhir yang membatasi lingkungan kampung dengan kawasan hutan dan ladang kami.

Di rumah sederhana itu tinggal satu keluarga pembuat Gule Kirik atau Gula Aren. Tempat pembuatan gula aren itu sendiri adalah sebuah pondok tanpa dinding yang berada di halaman rumah.

Dulu hampir setiap kali pergi ke ladang,  kami selalu melihat mereka memasak air sadapan Pohon Kabong atau  Pohon Nira. Air Nira itu diaduk terus menerus sampai mengental dan siap dicetak menjadi Gula Kirik. Menggunakan cetakan dari potongan bambu  dengan diameter sekitar 10 sentimeter dan tebal kira-kira 2 sentimeter.  Sebagai bentuk dan ukuran standar gule kirik  yang lazim di gunakan di pasar-pasar kampung kami.

Kemudian dalam jual beli Gule Kirik dikenal istilah Kirik dan Turus.  Kirik menyatakan jumlah 1 potong  Gule Kirik  dan Turus menyatakan jumlah 10 potong Gule Kirik.  Setiap 1 turus gule kirik dibungkus dengan  kemasan standar dari daun Nira kering.  Masyarakat kami tidak pernah menggunakan satuan kilo untuk Gule Kirik. Atas dasar saling percaya, para pembeli yakin bahwa  Gule Kirik yang dibelinya—walau tidak ditimbang—sesuai dengan ukuran  standar.

Sekali waktu Aba pernah membeli Gule Kirik langsung ke rumah pembuatnya di tikungan jalan kampung itu.  Selain masih baru dan harganya lebih murah bila dibandingkan dengan membeli di warung, membeli langsung ke pembuatnya bisa menjalin silaturahmi serta menumbuhkan semangat dan motivasi tersendiri.

Dalam kepolosanku sebagai anak-anak  yang amat menggemari makanan manis  seumpama permen misalnya, memperhatikan orang membuat Gule Kirik  adalah suatu hal yang sungguh menarik.

Bejerat Puyo ( Menjerat burung Puyuh )

Setelah melewati rumah keluarga pembuat Gule Kirik itu, kira-kira 2 kilometer kemudian  kami memasuki sebuah kawasan hutan yang oleh masyarakat Belitong disebut kerangas. Yaitu sejenis hutan kering yang jarang terdapat pohon besar. Umumnya pada kawasan hutan seperti ini banyak ditemui tumbuhan Renggadaian. Yakni tumbuhan yang batangnya selalu lurus sehingga sering dibuat pagar kebun sedang daunnya punya aroma khas sehingga dipakai ibu-ibu sebagai penyedap rasa masakan tradisional Belitong yaitu gangan ikan air darat atau ikan air tawar.

Selain tumbuhan Renggadaian, pada vegetasi kerangas ini juga sering dijumpai tumbuhan hutan yang bernilai jual tinggi. Diantaranya tumbuhan Anggrek hutan, tumbuhan Kantong Semar atau Kemindokan serta tumbuhan Sarang Semut. Di pasar-pasar swalayan di Jakarta, bisa ditemui bonggol tanaman Sarang Semut sudah ini dikeringkan lalu diiris tipis-tipis dan  dijual dalam kemasan. Pada label kemasannya dicantumkan keterangan sebagai obat herbal berbagai penyakit dalam. Salah satunya adalah penyakit kencing manis.

Selain aneka tumbuhan khas tersebut, di dalam hutan ini juga banyak dijumpai Burung Puyuh.  Burung Puyuh ini adalah satu jenis unggas yang lebih banyak bergerak dengan menggunakan kaki dibandingkan terbang. Oleh karena itu, orang-orang banyak yang menangkap burung puyuh ini hidup-hidup dengan jalan menjeratnya.

Menurut Aba yang tersulit dalam menjerat burung puyuh ini adalah mencari lokasi perlintasan burung ini di dalam hutan. Kata beliau ada ciri-ciri khusus yang menandakan suatu lokasi pernah atau sering dilintasi burung puyuh. Salah satunya adalah lokasi tanah berpasir, berdebu dan ada sedikit  rerumput kering.

Kemudian ada pula dua hal unik tentang prilaku Burung Puyuh. Pertama, konon bila bersembunyi,  ia hanya menyembunyikan kepalanya saja. Menganggap bila ia tidak bisa melihat mahluk lain, maka  mahluk lain pun tidak bisa melihatnya. Hal unik kedua adalah dalam urusan berbagi peran di keluarganya. Anehnya yang betugas menjaga sarang dan anak-anaknya adalah burung puyuh jantan sedangkan burung puyuh betina  malah bertugas  mencari makanan alias yang mencari nafkah. Oleh karena kata Aba , apabila adasatu rumah tangga dimana suaminya menggantungkan hidup dari penghasilan istri, suami tersebut akan dijuluki orang sebagai Burung Puyuh.

Aku tak lepas memandangi Aba , mengikuti setiap kisah dan penjelasan beliau. Bagiku mungkin karena naluri seorang guru yang sangat kental didalam diri beliau,  Aba sungguh piawai dalam bertutur, bercerita serta pandai memilih kapan  waktu yang tepat buat menceritakannya.  Sehingga dengan demikian apa  yang telah beliau katakan akan selalu membekas dan tak mudah hilang dalam ingatan.

Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya sampailah kami pada suatu lokasi.  Aba mulai memperagakan keahliannya. Mula-mula beliau berjongkok mengamati keadaan sekeliling. Setelah diam beberapa saat, lalu Aba membuat  semacam ‘jalan’ kecil selebar kira-kira 15 sentimeter.  Caranya dengan  mengais-ngais tanah,  menyingkirkan atau membersihkan daun-daun dan ranting kering lalu disusun  menjadi tanggul. Tak lama  kemudian terbentuklah sebuah jalannan  berpasir. Sebagaimana kondisi atau ciri-ciri perlintasan yang disenangi si burung puyuh. Kami menyebut lintasan atau jalan buatan ini dengan istilah Pepa.  Pepa inilah yang nantinya akan menggiring burung puyuh tadi ke arah yang “benar”. Yaitu tempat dimana jerat akan dipasang.

Setelah membuat pepa selanjutnya Aba memasang rangkaian jerat. Pertama-tama beliau tancapkan secara melengkung sepotong kayu lentur dengan panjang 20 sentimeter.

Setelah itu dibuat jembatan jebakan dari susunan ranting kecil kering. Ranting-ranting pijakan pada jembatan kemudian  dihubungkan dengan pemicu yang panjangnya kira-kira setengah batang korek api.

Tepat ditengah pemicu dililitkan seutas benang nilon. Salah satu ujung benang itu dibentuk simpul jerat  yang melingkar dengan diameter 10 sentimeter,  mirip lingkaran tali laso. Ujung lainnya diikatkan pada sepotong kayu yang ditancapkan ditanah berfungsi sebagai pengayun atau pengungkit. Untuk mengayun atau menarik dengan cepat simpul jerat tadi. Oleh karena fungsinya tersebut maka kayu pengayun atau kayu pengungkit ini harus dipilih kayu yang lentur. Dalam ilmu fisika, cara kerja jerat ini mengandalkan momen angkat dari kayu lentur tadi untuk menghasilkan satu tarikan atau hentakan berkecepatan tinggi.

Setelah semuanya sudah terangkai dengan baik, jerat dibiarkan terpasang dan tinggalkan  untuk kemudian di selik atau diperiksa keesikan hanrinya.

Berikut penjelasan cara kerja jerat burung puyuh ciptaan Aba :

Apabila ada burung puyuh yang masuk ke dalam lintasan Pepa lalu kakinya menyentuh atau menginjak jembatan jebakan maka satu itu pula pemicu akan terlepas  dari kayu penahan. Bersamaan dengan itu kayu pengayun bereaksi melalui efek angkatnya, menarik dengan cepat simpul jerat benang nilon untuk membekap kaki si burung puyuh.

Dengan konstaruksi demikian maka ada tiga kemungkinan yang akan terjadi pada jerat tersebut. Yang pertama,  jerat mengena dan burung puyuh tertangkap hidup. Kedua, jerat sama sekali tak pernah dilintasi burung puyuh alias burung puyuh sama sekali tak pernah masuk ke dalam lintasan pepa. Yang ketiga kondisi dimana pijakan telah turun,  pemicu telah terlepas penahannya namun tidak ada burung puyuh yang terjerat.  Ini bisa disebabkan karena burung puyuh  terlalu cepat bereaksi sehingga kayu pengayun terlambat menarik tali nilon. Atau karena di lokasi sedang turun hujan deras. Sehingga pijakan jebakan tertimpa air hujan terus menerus lalu perlahan-lahan menurunkan pijakan lalu memaksa  pemicu terlepas  dan kayu pengayun pun menarik benang nilon. Kondisi jerat seperti ini kami sebut dengan istilah bingkas.

Bebanjor di Aik Kumpe

Bebanjor adalah pola menangkap ikan yang mirip seperti memancing. Bedanya untuk bebanjor kail dan umpannya –biasanya umpan hidup seperti ikan Kemuring atau ulat sagu–ditinggalkan bersama jorannya untuk sekian lama untuk kemudian setelah beberapa jam atau seharian diselik atau periksa kembali.

Satu kenangan yang sangat berkesan bagiku saat kami bebanjor sekaligus menginap bersama keluarga di tepi sebuah danau. Waktu itu umurku baru  sekitar 4 tahun. Yang ikut dalam rombongan saat itu adalah Aba , Umak  atau Ibu kami , aku sendiri, Pak Cik Rihan dan Bang Fendi. Dua nama terakhir adalah anak angkat Aba. Selain keluarga kami juga ikut keluarga Almarhum Paman kami, Pak Hamid Yasin dan Mak Ana.

Sekitar pukul dua siang kami tiba di lokasi lalu segera mendirikan pondok   diatas tanah berpasir bekas galian timah untuk tempat berlindung. Pondok itu dibuat dengan rangka beberapa batang kayu gelam. Atapnya dari lembaran kajang. Yaitu atap sementara terbuat dari anyaman daun pandan kering yang sering oleh para pedagang kami lima di pasar Tanjongpandan.  Untuk menambah keteduhan,  sengaja pondok kami didirikan persis dibawah pohon Seruk yang cukup rindang.

Setelah selesai membuat pondok, kegiatan berikutnya adalah memancing ikan kecil Kemuring untuk umpan. Lokasi pemancingan ikan Kemuring ini berada di sebuah danau buatan di dalam kompleks  instalasi air minum milik PT. Timah. Danau buatan itu dikenal oleh masyarakat Tanjongpandan dengan nama Aik Kumpe. Maksudnya adalah danau yang airnya dialirkan ke kota dengan menggunakan kumpe atau pompa. Danau Aik Kumpe ini sangat jernih sekali, maklum karena digunakan untuk keperluan air minum.

Dulu kami sangat takut  berenang di danau ini. Bukan karena dalamnya air danau itu atau adanya larangan dari PT. Timah untuk berenang karena khawatir terhisap mesin pompa. Namun ada satu hal yang  membuat nyali  dan kenakalan kami segera meredup cukup dengan hanya memandangi  danau  itu, yaitu karena beredar kabar di danau itu banyak buayanya.  Dan kami termasuk yang sebelumnya menyangsikan kebenaran kabar itu,  suatu ketika menyaksikan sendiri orang memancing sedang buaya. Di danau yang lain di samping Aik Kumpe dengan umpan ayam hidup. Seketika rasa ngeri hinggap di benak kami. Jangan-jangan seluruh danau di kawasan ini memang banyak buayanya.

Dasar danau Aik Kumpe ini banyak  ditumbuhi rumput atau lumut-lumut danau.  Jika  dilihat dari atas warnanya tampak hijau ke hitam-hitaman.  Kata Aba, di antara lumut-lumut danau itulah  tempat berkumpulnya keluarga ikan Kemuring. Dulu aku tak tega melihat ikan-ikan kecil ini dijadikan umpan . Selain kasihan juga karena kagum melihat bentuk  rupanya yang indah dengan strip warna biru di sepanjang tubuhnya.  Diam-diam kupindahkan ikan-ikan Kemuring umpan itu  kedalam kaleng kecil  untuk kupelihara dirumah sebagai ikan hias.

Sementara di pondok kajang, Umak dan Mak Ana sibuk menutok atau menumbuk  bumbu dapur seperti kunyit, cabe rawit, lengkuas dan kemiri. Mereka membuat bumbu masakan Gangan, masakan tradisional khas pulau Belitong. Dari jauh suara alu beradu dengan lumpang  terdengar bertalu-talu meramaikan suasana. Menambah  keceriaan Aik Kumpe, yang biasanya suram karena terus menerus mendengar teriakan mesin pompa tua.

Setelah mendapat umpan cukup banyak,  Aba dan rombongan bergerak menuju sungai kecil bernama Aik Kubu,  lokasi pemasangan banjor. Aik Kubu berjarak sekitar 10 meter dari pondok, terpisah oleh jalan tanah merah atau tanah loko.

Sesampainya di tepian satu persatu kail banjor di pasangi umpan ikan Kemuring yang menggelepar lalu segera ditancapkan menggunakan sebatang kayu  kecil. Aku sendiri karena masih kecil hanya mengawasi mereka dari kejauhan  sambil bermain di gunungan pasir lembut yang banyak  terdapat di sekitar pondok.

Menjelang Ashar, seluruh banjor selesai dipasang. Bumbu Gangan yang dibuat Umak dan Mak Ana juga telah siap. Sementara menunggu banjor mengena, kami ngobrol menikmati suasana sore yang damai sambil minum kopi hangat.

Selepas Magrib banjor-banjor itu di selik atau diperiksa satu persatu dengan senter. Walau sepintas hanyalah berupa kegiatan mengangkat joran tapi harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati. Nilon banjor yang dalam keremangan tampak bergerak-gerak itu baru boleh dipegang setelah bisa meyakini  jenis mahluk  yang melekat di mata kailnya. Sebab tak jarang ada ular yang turut memangsa umpan. Misalnya ular sabak atau ular sanca air. Bila ini terjadi, maka banjor secepatnya harus dilemparkan ke tanah lapang untuk melepaskan ular atau bila takut akan resiko lebih baik dilemparkan ke sungai.

Ikan-ikan yang didapat umumnya jenis ikan sebangsa ikan gabus yaitu ikan Mengkawak atau Tupok. Atau jenis ikan sebangsa Lele yaitu ikan Kelik dan Linggang.  Ikan-ikan hasil tangkapan setelah disiangi langsung ditanggarkan ke belanga dan dimasak bumbu gangan yang telah disiapkan tadi. Didalamnya dimasukkan penyedap rasa alami, beberapa pucuk daun Renggadian. Lalu sebagian  sisanya di goreng. Jadilah kami malam itu akhirnya bersantap gangan dan goreng ikan darat  yang sangat lezat.

Selepas Isya kembali rombongan kembali memancing ikan Kemuring untuk  umpan banjor babak berikutnya. Esoknya, pagi-pagi sekali banjor ini kembali di periksa. Ikan-ikan yang didapat lalu dibawa pulang untuk dimasak dirumah. Lalu pondok pun dibongkar dan berakhirlah sudah rekreasi bebanjor  keluarga kami.

Kenangan Jeramba Besi

Jalan tanah merah menuju danau Aik Kumpe tempat dimana kami bebanjor itu di hubungkan oleh  sebuah jembatan kecil yang terbuat dari dua lembar besi yang berlobang-lobang ditengahnya. Tiap lembar besi memiliki lebar setengah meter dan panjang sekitar 4 meter.  Karena dibuat dari sambungan dua lembar besi  maka masyarakat menamakan jembatan itu sebagai Jeramba Besi.  Walaupun bila dilihat dari ukurannya,  lebih tepat lah ia disebut sebagai titian besi.

Mereka yang melintas dengan membawa sepeda atau sepeda motor bijaknya harus menuntun sepeda atau motornya.  Hanya orang nekat atau yang merasa punya keterampilan tinggi yang mulus menyeberang Jeramba Besi dengan tetap menaiki kendaraannya. Dulu, melihat kenekatan atau keahlian mereka ‘berakrobatik’  meniti Jeramba Besi dengan sepeda atau motornya bagiku sudah merupakan sebuah tontonan yang menarik.

Uniknya walau hanya dengan lebar setengah meter, tetapi peran Jeramba Besi sangat penting, terutama  bagi masyarakat yang tinggal disekitar. Sebut saja masyarakat Kampong Aik Serekuk. Kampong yang paling dekat dengan ladang kami itu. Boleh dikata Jeramba Besi inilah yang menghubungkan lingkungan kehidupan di kampung dengan lingkungan ladang atau lingkungan hutan. Mereka yang biasa melewati Jeramba Besi umumnya masyarakat  peladang yang membawa hasil bumi ke kota atau peladang yang harus ke kota terkait logistik di rumah ladangnya, misalnya kehabisan stok  kaos lampu petromak. Selain itu para pencari kayu bakar atau mereka yang berprofesi sebagai pencari daun simpor dan tali purun.  Selebihnya adalah masyarakat  kampung sekitar yang sekedar jalan-jalan atau sesekali ingin bebanjor seperti kami.

Nama Jeramba Besi juga cukup melegenda dan terkenal  di lingkungan pergaulan anak-anak dan remaja seantero Tanjongpandan. Bagi kami anak-anak kampung, ia bukan hanya sekadar titian selebar setengah meter yang hanya bisa dilalui sepeda atau motor dengan cara dituntun. Tapi  sudah naik kelas menjadi semacam  wahana hiburan, tujuan wisata murah meriah dan kenangan terindah dalam hidup.  Disinilah dulu kami berlatih loncat indah versi anak kampung,  menjadikannya sebagai ‘papan’ start untuk lomba renang gaya bebas.  Bahkan ada seorang teman berkisah,  tertarik dengan gadis sekampung lalu menemukan cinta pertamanya disini.

Bagi ibu-ibu kami, Jeramba Besi dan Aik Kubu sudah dianggap seperti sahabat,  tempat mengadu saat kemarau panjang menyergap kampung dan membuat perigi-perigi rumah kami mengering.  Pada musim kemarau itu suasana Jeramba Besi hiruk pikuk bagaikan pasar, rio campo istilah kami. Masyarakat dari berbagai kampung berdatangan untuk nyesa atau mencuci pakaian sambil membawa anak-anak mereka.  Maksudnya sambil mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus  bisa mengasuh anak  dan  bersosialisasi.

Namun diantara berbagai macam fenomena keindahan Jeramba Besi itu, ada satu kisah  pengalaman pahitku bersama Aba saat melintasi jembatan sempit ini.  Suatu ketika, kami pulang dari bebanjor dihulu Aik Kubu dengan sepeda motor.  Sesampainya di mulut jeramba,  seperti biasa kamipun turun dari sepeda motor. Aba lalu menuntun sepeda motor pelan-pelan sementara aku berjalan mengiringi beliau di belakang.

Entah karena mengantuk atau terlalu letih, tepat ditengah jembatan tiba-tiba “BRUKK…BYUUUR”. Motor terlepas dari pegangan Aba  lalu  terjungkal ke sungai dan lenyap ditelan pusaran air. Detik berikutnya giliran Aba yang sudah kehilangan keseimbangan menyusul motor kami  masuk ke dalam sungai.

Sungguh dramatis. Dalam kepanikan itu sekuat tenaga Aba berenang  melawan arus untuk menyelamatkan diri karena 5 meter ke arah hilir telah menanti arus sungai yang lebih kuat untuk  menyeret beliau ketempat yang lebih dalam.

Aku hanya prihatin dan sedih  begitu melihat beliau keluar dari air. Mimik wajahnya menyiratkan setidaknya dua macam perasaan. Antara lega karena  berhasil naik ke tepian sungai dan kekhawatiran yang mendalam memikirkan  motor kesayangan kami yang tengah sekarat di dasar sungai.

Aba kemudian naik ke Jeramba Besi lagi, mengawasi kalau-kalau ada yang lewat sambil membawa suatu barang yang saat itu sangat penting–tambang.

Setelah menunggu beberapa saat barulah satu demi satu kami berjumpa dengan  orang-orang. Mereka sempat singgah untuk menanyakan detil perisitwa yang menimpa kami.  Beberapa diantara mereka berinisiatif meminjam tali tambang kepada seorang Tionghwa yang kebetulan tinggal di lokasi yang paling dekat. Setelah tali tambang didapat, salah satu dari mereka menyelam kedasar sungai mengaitkan ujung tambang badan ke motor. Lalu  kemudian beramai-ramai motor kami ditarik keluar dari sungai.

Mengharukan sekali, pelan-pelan motor kembali muncul ke permukaan, lalu  digiring beramai-ramai ke tepian sungai, persis seperti regu penyelamat yang sedang mengevakuasi korban kecelakaan pesawat. Kulihat wajah Aba begitu gembira dan mengucap syukur mendapati ‘teman seperjalannya’  masih dalam kondisi utuh.

Motor itu kemudian di standartkan pada tempat yang agak tinggi untuk ditiriskan. Pertama-tama lumut-lumutan yang sempat menempel di seluruh badannya dilepaskan. Setelah itu mengeluarkan air dari lubang knalpot  dengan jalan ditunggingkan. Lalu businya di keringkan dan diamplas. Terakhir giliran kabel-kabel akinya di cek. Semua pekerjaan itu dilakukan oleh beberapa orang dengan bagiannya masing-masing. Layaknya kerjasama sebuah tim teknisi balapan motor.

Akhirnya tibalah pada tahap  yang paling menentukan. Yaitu upaya untuk menghidupkan kembali motor itu. Semua yang hadir tegang menahan nafas. Aba harap-harap cemas lalu berjalan pelan mendekati motor itu. Ia diam sebentar,  seperti sedang menunggu sebuah momen yang paling baik untuk melakukannya.  Lalu dengan sikap santun ia duduk diatas sadel motor yang masih basah itu. Kepalanya ditegakkan menghadap horison, pasrah terhadap kemungkinan yang paling buruk apapun menyangkut nasib sang motor tercinta.

Setelah mengucapkan nama Tuhan,  segenap kekuatan yang tersisa ia tumpukan pada tumit kaki kanannya.

Dan, “BBBBRRRRBBBBBBBB. Sekali lagi , “BBBRBRRRRRRRRRRR……!”. Sungguh ajaib. Hanya dengan 2 kali engkol motor itu hidup kembali. Ya, itulah dua engkolan terbaik Aba sepanjang karir beliau bersama motor bebek kesayangan kami  itu.  Semua yang hadir di Jeramba Besi berseru mengucap  syukur.  Aku hampir bertepuk tangan saking senangnya. Lalu sebagian berbisik-berbisik dan mengangguk-angguk mengagumi ketahanan mesin motor itu. Sebagian lagi geleng-geleng kepala takjub.

Aba bangga dan bahagian tapi mencoba tetap menahan diri.  Khawatir motor itu akan mati lagi, handel gas tak dilepaskan oleh beliau hampir 3 menit lamanya.  Selama itu pula motor bebek kami meraung-raung.  Dari knalpotnya sisa-sisa air sungai mengepul bercampur dengan asap oli mesin yang terbakar. Sementara aku semakin senang melihatnya.

Demikianlah kisah kenanganku di suatu petang yang kelabu di Jeramba Besi. Sekarang, titian yang legendaris itu hanya tinggal cerita. Berubah menjadi sebuah jembatan–benar-benar jembatan– yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat seperti truk. Adapun motor bebek kami yang bersejarah itu akhirnya dijual Aba untuk biaya kuliahku.

Bebanjor di hutan Pelepak Pute dan  ‘bertemu’ sebayak

Selain di Aik Kumpe, kami juga pernah bebanjor dengan menginap dilokasi. Tetapi berbeda dengan yang pertama,  untuk yang kedua kalinya ini berada  nun jauh ditengah belantara Pelepak Pute, wilayah kecamatan Sijok, utara pulau Belitung .

Misi bebanjor ini dipimpin oleh Pak Mahdar, guru mengaji dan tetangga kami di kampong Gang Perai, Tanjongpandan sekaligus warga asli kampung Pelepak Pute. Anggota yang ikut dalam misi bebanjor ini sebagian besar adalah  para “civitas akademika” di SD tempat dimana Aba bekerja, sekaligus tempatku bersekolah. Nama-nama yang masih kuingat ikut pada waktu itu  Guru Hasan Muhammad, Guru  Sani Hamid dan Pak Arpan, Pegawai Administrasi. Dan samar-samar  antara lupa dan ingat, Kepala Sekolah kami, Pak Abdul Hadi  sepertinya juga ikut waktu itu.

Dari keluarga kami ada Aba, aku  dan saudara sepupu Aba, Pak Andak Achdian. Alasan lain mengapa Pak Andak Achdian ikut adalah karena lokasi bebanjor berada ditengah hutan belantara dimana umumnya disitu banyak terdapat burung. Dan kebetulan Pak Andak Achdian senang sekali berburu burung.

Rombongan berangkat selepas zuhur dari Tanjongpandan menggunakan sepeda motor. Sekitar sejam kemudian sampailah kami di kampung Pelepak Pute lalu singgah sebentar melepas lelah dirumah keluarga Pak Mahdar  dan bersillaturahmi dengan keluarga beliau.

Setelah beramahtamah dan menghabiskan segelas kopi hangat, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi.  Menjelang Ashar  akhirnya kami sampai di lokasi yang dituju. Sebuah hutan lebat yang dipenuhi berbagai tumbuhan khas hutan tropis.

Aku mengamati sekeliling dan memandang bermacam-macam tumbuhan yang terdapat disana. Diantaranya pohon yang sering digunakan untuk pagar dan kayu bakar seperti Samak  dan Pelawan.  Lalu oleh Pak Arfan aku dikenalkan dengan jenis pohon yang sering dipakai untuk konstruksi rumah seperti Merbau, Bangkiray dan Meranti.  Namun yang menarik adalah mengamati tumbuhan rotan yang tumbuh menggantung dari satu pohon ke ke pohon lain.

Tak lama keheningan suasana hutan itu pecah oleh suara berjenis burung-burung hutan. Pak Andak Achdian serius mengamati dahan-dahan pohon besar sumber suara  tadi lalu terlihat memompa senanapan anginnya. Burung Punai, Rawe dan Peregam, itulah jenis buruan yang beliau incar. Burung-burung itu berukuran sebesar burung dara dan konon rasa dagingnya pun selezat Burung Dara. Beberapa menit kemudian  Pak Andak sudah menghilang di kerimbunan hutan. Dari kejauhan kudengar beberapa kali suara peluru senapan angin—atau mimis kami menyebutnya—ditembakkan dan berdesau melesat menembus daun-dauan pohon besar, menandakan Pak Andak sudah beraksi.

Sementara Aba dan sebagian kawan-kawan sejawatnya tampak sibuk mengeluarkan isi Kerepe–tas yang dibuat dari karung biji timah–lalu menyiapkan peralatan banjor.

Yang lain sibuk memasang tenda sederhana dari selembar terpal diantara dua batang pohon besar. Tepat didepan tenda itu terdapat sebuah rawa-rawa yang cukup luas, tempat kami akan memasang banjor nantinya. Ditengah rawa-rawa itu masih terdapat banyak tumbuh pohon-pohon Gelam, yaitu sejenis pohon berkulit tebal dan halus seperti gulungan kertas. Disekelilingnya hidup tumbuhan air yang disebut Purun. Yang dipakai oleh  pedagang sebagai tali pengikat.Kami menyebutnya tali purun.

Setelah tenda dipasang, sebagaimana biasa anggota rombongan memancing  umpan ikan Kemuring.  Kira-kira sejam kemudian  rombongan berpencar mengelilingi tepian rawa untuk memasang banjor pada tempat yang mereka yakini banyak ikannya. Kegiatan memasang banjor ini baru selesai ashar.

Sambil menunggu magrib kami, para orang tua begalor atau ngobrol sambil minum kopi. Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka dan sesekali ikut berdiskusi. Aku dapat menilai dan merasakan bahwa orang-orang akan semakin dekat dan kompak bila berada pada satu situasi yang sama. Misalnya dalam kondisi dengan akses hidup yang terbatas seperti di hutan belantara seperti ini. Secara naluriah bahaya dan bencana yang mungkin terjadi akan dianggap sebagai ‘musuh bersama’ yang hanya akan bisa diatasi dengan menggalang kekompakan dan persatuan.

Hal lain adalah bila orang bersama-sama berada di tempat asing atau tempat yang berbahaya maka justru mampu menghadirkan tingkat sosilisasi yang melebihi apa yang dapat mereka perbuat dalam kehidupan normal seperti saat berada di kampung atau di kota misalnya.  Ditempat terpencil, sunyi senyap dan berbahaya seperti ini tampak jelas setiap orang akan berusaha untuk saling menguatkan, saling memberikan rasa aman, saling menenangkan, saling menghibur dan saling membesarkan rasa percaya diri yang lain.

Aku sendiri dihibur oleh kelakar dan kelucuan Pak Arfan. Beliau lakukan itu demi menghilangkan kekhawatiranku yang sempat terlihat oleh beliau. Namun kekhawatiranku itu akhirnya memang benar-benar berubah menjadi  kepanikan beberapa jam kemudian.

Saat itu sekitar pukul 9 malam, saat itu hampir semua anggota rombongan sedang berada di rawa-rawa untuk memeriksa banjornya masing-masing. Di tenda hanya ada aku dan Pak Hasan Muhammad yang mendapat giliran berjaga jaga.

Tiba-tiba,  “BBBBLLLLARRRR….BBBLLLAAARRRR…..BBBLLLLARRRRR”. Terdengar seperti sebuah batang kayu yang di hempaskan seseorang dengan keras sekali di permukaan rawa-rawa. Tak kurang tiga kali suara hempasan itu terdengar bagaikan sebuah granat yang tiba-tiba meledak dalam kesenyapan hutan yang gelap gulita.

Aku dan Pak Hasan seketika pucat pasi. Kami saling pandang sambil memikirkan siapa kira-kira yang melakukannya. Kami yakin bahwa hempasan air sedahsyat itu secara akal tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia. Tapi siapa ?

Aku merapat lebih dekat pada Pak Hasan. Tiba-tiba beliau berdiri dengan kepala tegak. Lalu masih dengan wajah dingin, pucat dan tangan yang masih gemetaran,  sekeras-kerasnya beliau mengumandangkan Azan. Hanya itu yang dapat beliau  lakukan untuk memohon perlindungan Allah sambil menguatkan nyali.

Benarlah  pendapat banyak orang, dalam ketakutan kadang orang bisa berbuat melebihi keadaaan normal. Baru kali ini aku dengar Pak Hasan Muhammad mengumandangkan azan dengan hampir berteriak.

Suara Azan Pak Hasan itu mampu menyapu tiap sudut hutan dan akhirnya berhasil mencapai pendengaran seluruh rombongan yang tengah termangu di tepian rawa.

Demi mendengar suara azan Pak Hasan, seluruh rombongan yang tengah memasang banjor itu kemudian saling berteriak mengganggil satu sama lain untuk menanyakan status dan posisi satu sama lain dengan bahasa kode. Bahasa kode ini biasa digunakan bila ingin memanggil orang ditempat-tempat tertentu seperti di hutan misalnya. Dalam budaya kami ada larangan menyebutkan nama bila ingin memanggil teman ditempat-tempat beresiko seperti itu. Kata Aba orang nanti bisa berhalusinasi dan terkecoh mengikuti panggilan namanya dan malah tersesat. Maklum di hutan konon tempat bersemayam segala macam mahluk halus.

Beruntung, bagai dikomando beberapa menit kemudian seluruh rombongan sudah kembali ke tenda. Barulah aku dan Pak Hasan bisa bernafas lega. Lalu mereka bergantian menanyai kami tentang apa yang sempat kami lihat tadi.

“Kamek dak ngeliat ape-ape ! Iye khan Yud ?” demikian jawab Pak Hasan tegas sambil berpaling ke arahku. “Ye, benar Pak ! ” kataku membenarkan beliau seraya mengangguk  dengan cepat. “Aku dak habis piker tangan siape yang sanggup membuat suare sekeras itu” kata Pak Hasan melanjutkan.

Yang lain saling pandang lalu geleng-geleng kepala setelah berbisik-bisik. Tak lama kemudian Aba yang merasa sedikit faham tentang mahluk gaib,  angkat bicara.

“Inipun gawe sebayak, die nak nyube bemain aik limau” kata Aba dengan nada tenang. Setenang seperti layaknya orang mendengar berita tentang judul film bioskop yang baru akan diputar.   Lalu dengan segenap pengetahuan dan wawasannya, beliau mulai mejelaskan seluk beluk mahlum bernama sebayak ini. Aku tak berkedip mendengarnya.

Sebayak dalam masyarakat kami adalah sejenis hantu atau mahluk halus serupa peri atau jin yang sering menggoda atau menganggu orang yang tengah berada di hutan. Hantu ini dipercaya masyarakat hanya mengganggu untuk membuat kaget atau takut dengan menggunakan benda-benda yang ada disekitar kita. Misalnya goyangan ranting atau membuat gaduh dengan bunyi hempasan air seperti itu. Selain itu adapula jenis sebayak  yang menggoda dengan memanggil-manggil nama. Sebayak jenis ini sering membuat orang tersesat di hutan.

Aik limau, air jeruk purut atau air jeruk nipis menurut Aba dipercaya sebagai penangkal sebayak. Cukup hanya dengan meneriakkan pada sebayak bahwa kita siap memeranginya dengan semburan Aik Limau, maka hantu sebayak akan lari lintang pukang. Bagi Aba, gangguan sebayak tak lebih dari hanya sekedar cara mahluk halus itu mengajaknya bercanda.

Setelah dijelaskan beliau demikian. Barulah kami semua menjadi tenang lalu kembali larut dalam obrolan hangat. Keesokan harinya semua hasil bebanjor tadi malam kami kumpulkan dalam satu tempat. Ternyata ikan yang didapat cukup banyak dan besar-besar  Terbalas sudah  perjuangan kami mulai dari berjam-jam bermotor menembus belantara hingga mencapai lokasi ini. Hingga pengalaman menegangkan saat ‘pertemuan’ kami yang sangat dramatis dengan sebayak tadi malam.  Alhamdulillah, akhirnya kami kembali kerumah dengan selamat tak kurang suatu apapun.

Mulut atau Mentandik

Yaitu kegiatan berburu berbagai jenis burung dengan getah yang dinamakan pulut. Getah ini dibuat dari campuran vaselin/gemuk kendaraan atau oli bekas dan getah karet yang dimasak dengan kental lalu didinginkan. Setelah kenyal dan punya daya rekat yang kuat pulut dibalutkan pada sepotong ranting yang ditancapkan ditanah di dekat sebuah genangan air.

Selain istilah mulut, berburu dengan cara menjebak burung  menggunakan getah ini sering disebut dengan istilah mentandik.  Berasal dari kata mandik atau  mandi. Maksudnya adalah berburu dengan cara menjebak burung yang akan mandi,  pada genangan air sisa aliran sungai atau  kali yang telah mengering oleh kemarau panjang.

Sisa-sisa genangan air itu biasanya terkumpul di suatu cerukan yang disebut lembong. Pada lembong itulah berbagai jenis burung ramai berkumpul untuk berteduh,  berlindung dari sengatan udara yang panas dan menyegarkan diri dengan jalan mencelupkan tubuhnya ke air sesering mungkin.

Untuk mendekati genangan air mereka selalu hinggap pada batu-batu, ranting atau  benda-benda yang paling dekat dengan genagan air. Prilaku seperti inilah yang  dimanfaatkan oleh para pemburu seperti Aba. Jadi benda-benda untuk bertumpu atau tempat berpijak burung-burung saat mandi itulah yang  diganti para pemburu dengan ranting berdaun yang telah dilumuri getah pulut.

Satu pengalaman mentandik bersama Aba adalah di sebuah lembong kecil yang di Desa Tanjung Binga. Lokasinya berada di sebuah kawasan bukit berbatu yang berbatasan dengan ume atau ladang cengkeh masyarakat sekitar.

Dari rumah penduduk  terdekat,  tempat kami menitipkan sepeda, kami masih harus berjalan kaki dengan sedikit mendaki untuk mencari cerukan atau lembong yang masih tersisa. Sambil berjalan Aba memotong beberapa rating pohon dengan panjang masing-masing sekitar 50 sentimeter. Ranting-ranting itu kemudian dibersihkan dan dibagian ujung sisa daunnya dibiarkan utuh. Maksudnya untuk menyamarkan atau memberi kesan alami pada ranting yang telah dipasangi pulut.

Sekitar 10 meter mencapai sebuah sungai yang telah mengering kami sudah mendengar suara kicauan  berbagai jenis burung. Kami menghentikan langkah disitu lalu berjongkok disela-sela  belukar yang agak rimbun tersembunyi dibawah sebatang pohon.

“Sssttt, itu suare burong Murai….“ kata Aba pelan sambil memberi kode dengan jarinya agar aku tetap tenang. Dalam kesempatan lain Aba pernah berkisah bahwa diantara berbagai jenis burungi, yang paling keras kicauannya adalah burung Murai. Bahkan sampai ada satu istilah masyarakat memakai kata murai untuk orang yang berbicara cepat dengan sedikit beteriak. Istilahnya Ki Murai Dejabutek, maksudnya cara bicaranya bagaikan burung Murai yang sedang dicabut bulunya.

“Sementara kite sembunyek duluk disinek, sambil mengintai burong-burong itu. Kalo la sepi baru pulut kite pasang disituk “  kata Aba berbisik sambil menunjuk ke sebuah Lembong.   Lembong itu berada pada lokasi yang sangat teduh, diantara pohon-pohon besar. Melihat siatuasi dan kondisinya, menurut Aba ini adalah lembong yang sangat disukai  burung.

Akhirnya setelah menunggu beberapa saat,  burung-burung itu kemudian terbang ke tengah hutan.  Suasana mendadak sunyi senyap. Barulah kami kami mendekati lembong. Pelan-pelan Aba berlutut dan membuka kaleng tempat pulut. Diambilnya  sejumput demi sejumput pulut lalu dilekatkan di ujung ranting. Ranting itu lalu diputar searah ke kanan  hingga pulut tadi merata ke tiga perempat bagian ranting. Seperempat bagian sisanya lalu ditancapkan ke tanah.

Setelah seluruh ranting-ranting pulut itu tertancap di sekeliling lembong, kami kembali ke tempat persembunyian untuk beristirahat sambil menyantap bekal yang kami bawa dari rumah. Dalam pada itu pandangan kami tetap tak lepas  ke arah lembong untuk mengawasi keadaaan.

Kira-kira sejam kemudian rombongan burung itupun terdengar kembali ke lembong.  Tiba-tiba,  “Ssssst…pulut kite la kena “ kata Aba pelan sambil memberi kode memintaku tetap tenang agar tak menarik perhatian rombongan burung-burung itu.

Dadaku sesak menahan diri untuk tak beraksi terhadap apa yang kulihat ini.   Aku tak berkedip mengawasi ranting-rating pulut kami. Sungguh perkasa daya rekat pulut ciptaan Aba itu. Satu persatu burung yang bermaksud mandi dan hinggap diatas ranting pulut menempel dengan kuat. Mereka baru sadar telah terjebak sesaat akan terbang kembali kehutan dan merasakan ada yang tak beres pada kakinya. Namun terlambat, semakin mereka meronta-ronta melepaskan kakinya maka justru semakin luas cengkaraman getah pulut itu.

Melihat seluruh ranting-ranting pulut kami sudah mengenai sasarannya,  segera kami keluar dari tempat persembunyian menuju lembong. Dengan sigap Aba melepaskan burung-burung itu dari ranting pulut. Tak disangka bahkan ada beberapa ranting pulut yang bisa menjebak dua ekor burung sekaligus. Lalu burung-burung yang sudah dilepaskan tadi segera disembelih oleh Aba lalu dimasukkan kedalam kerepe alias tas dari bekas karung biji timah. Kata Aba sebelum ia tersiksa kita harus segera menyembelihnya dengan nama Tuhan. Beliau menambahkan, kita boleh memburu hewan tapi tidak boleh menyiksanya

Langit Tanjung Binga merah merona saat kami  menuruni bukit tempat kami berburu itu. Aku setengah berlari menyongsong rumah tempat kami menitipkan sepeda. Ingin rasanya secepatnya aku tiba dirumah, bahkan jika perlu berlari mendahului kecepatan Aba bersepeda.

Sepanjang jalan, aku pegangi erat-erat kerepe kantong biji timah Aba. Segenap rasa bangga telah menghapus kelelahanku hari itu. Rasa bangga mendapatkan sebuah pengalaman berburu. Dan rasa bangga bisa mempersembahkan buruan hasil jerih kepada Umak tercinta dan membuat beliau senang.

Kenangan saat memancing di laut

Memasuki  usia belasan, Aba mulai mengajariku tentang kegiatan yang lazim dilakukan oleh masyarakat pesisir di Belitong. Khususnya memancing ikan. Kegiatan memancing ini sering kami lakukan saat  hari Libur atau hari Minggu pada waktu gelombang laut sedang tenang atau pada saat musim angin teduh.

Menurut Aba masyarakat pesisir mengenal berbagai cara memancing ikan secara tradisionil. Diantaranya adalah Mancing Bejaoran atau Mancing Ngarong dan Mancing Ngambor atau Mancing Beperau.

Yang dimaksudkan dengan Mancing Bejaoran atau Mancing Ngarong adalah memancing menggunakan joran atau jaoran sambil berendam di dalam air laut. Sedang istilah ngarong artinya mengarungi atau berjalan kaki menjelajahi laut. Sedang Mancing Ngambor atau Mancing Beperau  adalah kegiatan memancing tanpa menggunakan joran atau jaoran. Kail dilemparkan atau dihamburkan ke laut dengan tangan dari atas perahu. Oleh karena itu kegiatan ini sering disebut dengan istilah Mancing Beperau, maksudnya memancing menggunakan perahu.

Tentang  siklus pasang naik dan pasang surut air laut

Kebanyakan para pemancing di Belitong faham mengenai siklus pasang surut air laut dan  memiliki kalender kelautan. Kalender itu berisi informasi tentang pergerakan angin dan arus serta informasi tentang kondisi pasang surut air laut secara periodik.

Aba menjelaskan para pemancing ikan mengenal  siklus pasang surut air laut terkait dengan aktivitas mancing bejaoran.  Yaitu yang disebut dengan istilah Anak Aik  dan Aik Taruk.

Anak Aik adalah siklus pasang naik dan pasang surut dalam rentang waktu panjang, yaitu sekitar enam jam. Dalam satu periode  misalnya laut bergerak pasang mulai pagi hari hingga tengah hari,  lalu kemudian bergerak surut mulai tengah hari hingga menjelang malam. Periode pasang surut inilah yang paling ideal dikalangan para pemancing.. Dalam siklus tersebut para pemancing akan datang pada siang hari  lalu menjelajah jauh ketengah laut dalam kondisi air laut yang semakin surut dan pulang kembali pada petang hari saat air laut kembali pasang.

Sedangkan Aik Taruk adalah siklus dimana pergerakan air laut saat pasang naik dan pasang surut  melalui rentang waktu yang pendek tak lebih hanya sekitar 1 – 2 jam.  Oleh karena interval waktu yang demikian pendek para pemancing akan sulit memprediksi waktu dan luas jelajahnya di laut. Para pemancing umumnya menghindari memancing pada periode Aik Taruk ini. Karena bila tidak waspada dan menjelajah terlalu jauh ketengah laut bisa-bisa pemancing akan terjebak di kedalaman air laut yang justru  bergerak menuju pasang naik.

Mencari umpan

Para pemancing punya pilihan tersendiri buat menentukan jenis umpan apa yang ingin dipakai. Namun khusus untuk memancing bejaoran pemancing tradisional biasanya hanya mengenal dua jenis umpan. Yaitu udang dan pumpun. Pumpun adalah sejenis cacing laut dengan warna merah kelabang. Ukuran panjangnya rata-rata 30 cm dengan diameter tubuh kira-kira sebesar kelingking anak-anak

Dalam urusan memilih umpan, para pemancing yang menggunakan udang cukup hanya dengan mengeluarkan sedikit biaya untuk modal membeli udang di pasar. Sedangkan bagi mereka yang fanatic menggunakan pumpun, biasanya mereka akan berangkat lebih awal dengan membawa spacul. Kerena mereka terlebih dahulu akan singgah di hutan bakau ini untuk mencari pumpun..

Saat mencari pumpun para pemancing akan berjalan pelan sambil membungkukkan badan. Mereka bergerak  menelusuri setiap jengkal tanah berlumpur hutan bakau untuk mencari lobang yang diyakini sebagai sarang pumpun. Sedikit saja mengeluarkan suara pumpun pun akan langsung ‘lari’ menuju sarangnya atau bersembunyi di dalam lumpur.

Menurut mereka yang biasa menggunakannya, jenis  umpan pumpun yang digemari oleh ikan adalah jenis pumpun sarang. Yaitu pumpun yang berlindung dalam sarang mirip kepompong ulat yang terbuat dari daun-daun yang membusuk.

Mancing Bebulus

Mancing Bebulus adalah kegiatan memancing  bejaoran atau mancing ngarong dengan tujuan mendapatkan satu jenis ikan berkoloni atau ikan yang hidup berkelompok bernama Bebulus. Di Jakarta ikan Bebulus disebut dengan nama ikan kaca piring.

Ada beberapa alasan yang membuat ikan Bebulus ini digemari oleh khususnya para pemancing ikan dan umumnya oleh ibu-ibu. Pertama, karena pertimbangan keselamatan dan kenyamanan karena habitat ikan Bebulus ini adalah lokasi berpasir dengan sedikit tumbuhan rumput laut yang tak terlalu jauh ketengah laut atau di lokasi yang tak terlalu dalam. Bahkan kadang para pemancing justru menemukan tempat ikan ini berkumpul pada kedalaman sebatas dengkul.

Alasan kedua daging ikan ini tidak berbau amis, gampang disiangi dan istimewa  rasanya sangat gurih bila digoreng kering. Cukup nikmat atau istilah kelaokan walau hanya dimakan dengan nasi putih.

Alasan ketiga para pemancing bisa merasakan sensasi tersendiri saat memancing ikan  ini, yaitu tarikan atau tenaga nya saat menarik kail cukup kuat. Apalagi rata-rata pemancing menggunakan joran bamboo yang kecil, pendek dan lentur khusus untuk memancing bebulus ini. Sehingga kekuatan tarikannya bisa membuat joran bamboo sampi mencuat kebawah kebawah. Para pemancing menyebutnya dengan istilah mencut.

Alasan lain, mengingat bebulus adalah salah satu jenis ikan yang hidup berkelompok, maka bila pemancing bisa menemukan lokasi tempat ikan-ikan ini berkumpul maka bisa dipastikan akan memperoleh banyak ikan ini dalam waktu singkat tanpa perlu mondar-mandir kepenjuru laut. Dan pengalaman-pengalaman menarik seperti itu suatu saat akan  dibagi kepada para pemancing lain.

Kata Aba, para pemancing sejati bergantian akan mengunjungi pantai-pantai lokasi favorit tempat memancing ikan bebulus. Diantaranya adalah pantai Suak, Bebilaian, Tanjong Tikar, Suge, Sungai Samak, Tiris, Pulau Bayan dan Dudat. Pantai-pantai tersebut seluruhnya terletak di pesisir barat pulau Belitong yang rata-rata punya kontur laut yang landai dengan ombak yang tenang.

Bagi masyarakat Belitong, memancing ikan bebulus bukan hanya sebagai hobi yang murah meriah, mengasyikan sekaligus menghasilkan. Namun merupakan ajang silaturahmi atau sosialisasi. Sering para pemancing berangkat secara berombongan dengan menumpang mobil pick up salah seorang teman atau sengaja berramai-ramai patungan menyewa truk.   Kemudian mengingat ikan Bebulus ini selalu bermigrasi dari satu pantai ke pantai lain , maka setiap menjelang akhir minggu para pemancing  saling bertukar informasi tentang keberadaan koloni ikan ini baik di warung-warung kopi maupun di tempat-tempat hajatan.

Mengingat memancing Bebulus sudah dianggap sebagai sebuah budaya masyarakat Belitong, maka pemerintah bersama-sama pihak swasta akhirnya menjadikan kegiatan mancing bebulus ini sebagai sebuah paket wisata budaya.

Ngelana

Istilah Ngelana berasal dari kata Lana. Yaitu sebuah lokasi berpasir yang terdapat  ditengah-tengah terumbu karang. Jadi ngelana berarti memancing pada lokasi lana tersebut. Untuk menemukan lokasi lana kata Aba, cukup dengan mengenali perbedaan antara lokasi berpasir dan terumbu karang dari kejauhan. Yaitu warna gelap yang mengitari sebuah titik terang.  Warna gelap mewakili terumbu karang dan warna putih terang mewakili lokasi tanah berpasir atau lana.

Adapun jenis-jenis ikan yang dapat dipancing di lokasi lana ini adalah ikan khas karang seperti misalnya : Ikan Penangkak, Ikan Jejeli atau Ikan Kakaktua, Ikan Ekor Kuning, Ikan Ketambak, Ikan Songsong Arus, Ikan Paser dll.  Rata-rata ikan-ikan karang ini berbau amis tapi tubuhnya besar-besar. Ada satu jenis ikan yang sangat tak diharapkan kehadirannya oleh para pemancing, yaitu ikan bernama Iguk. Alasannya selain rupanya yang tidak menarik dengan warna hitam kusam sepanjang tubuhnya, ikan ini adalah yang paling amis diantara semua ikan karang. Bila mendapatkan ikan ini memakan umpannya, para pemancing biasanya serta merta melemparkan ikan ini kembali kelaut sambil memberinya ‘hadiah’ omelan.

Para pemancing Ngelana umumnya mengenal betul seluk beluk keluatan di tempatnya memancing, seperti kontur dasar laut,  lokasi berbahaya sepertu alur atau palung, jenis-jenis ikan yang biasa ditemui atau jenis-jenis terumbu karangnya.

Berbeda dengan memancing Bebulus,  mancing Ngelana ini umumnya adalah pemancing yang sudah ‘prof’ atau ahli. Mereka menggunakan joran yang lebih panjang, besar dan kuat. Alasannya karena mereka seringkali menjelajah sampai ke lokasi laut yang lebih dalam. Dan untuk mecapai lokasi tersebut mereka juga kadang melangkah dengan bertumbu pada karang. Atau menjadikan karang sebagai tumpuan berdirinya untuk  melemparkan sejauh-jauhnya mata kail mencapai palung laut yang disebut Bing. Karena diyakini pada bing, palung laut atau pada lokasi yang dalam mereka akan mendapatkan jenis ikan yang jauh yang lebih besar lagi, seperti misalnya : ikan Seminyak.

Disini Aba mengingatkanku, agar berhati-hati bila memancing di lokasi bing atau palung laut, terutama saat bertumpu pada terumbu karang. Sebab menurut beliau, arus laut sengat kuat membawa kita semakin ke dalam di lokasi tersebut. Kemudian seringkali pula para pemancing terperosok ke dalam palung karena tak sengaja bertumpu pada karang yang rapuh.

Aba menyebutkan salah satu jenis karang yang rapuh ini adalah yang dinamakan Karang Liak atau Karang Jahe, karang berbentuk pohon dengan warna kuning pucat. Sedangkan jenis karang yang ideal untuk bertumbu adalah jenis karang Mudong yang kokoh dan datar  berwarna orange kemerahan. Sungguh orang yang beraktivitas di laut seharusnya tidak buta warna.

Dulu, ada dua tempat yang sering kami datangi bila ingin Ngelana, yaitu pantai yang dinamakan Pangkalan Kapor dan Pangkalan Rambai. Keduanya berada di Desa Batu Itam, Tanjongpandan Maksud kata pangkalan adalah lokasi awal atau lokasi kami berangkat menuju laut lepas dari kawasan perkampungan. Ditempat itu ada rumah yang ditinggali oleh satu keluarga nelayan. Ditempat itulah kami menitipkan sepeda dan atau motor.  Seluruh pemancing sangat menghormati keluarga nelayan sang ‘pemilik’ pangkalan ini.  Karena mereka sangat ramah dan amanah menjaga kendaraan yang dititipkan oleh para pemancing. Akhirnya terciptalah hubungan silaturahmi yang erat diantara keduanya. Sebagai ungkapan kekeluargaan dan rasa terima kasih biasanya para pemancing selalu membawakan mereka berbagai keperluan sehari-hari  seperti gula, kopi atau bahkan beras. Selain daripada itu, bila mendapatkan hasil berlebih misalnya, para pemancingpun dengan ikhlas akan membagi hasil pancingannya dengan mereka.

Ketupat Burong dan belajar membuat ketupat

Kekagumanku yang lain pada Aba adalah bahwa beliau bisa membuat berbagai jenis ketupat. Mulai dari Ketupat Biasa, Ketupat Bawang,  Ketupat Jantong, Ketupat Lepas sampai pada salah satu jenis ketupat yang paling kami senangi yaitu Ketupat Burong.  Ketupat Burong ( Ketupat Burung ) ini bentuk dan ukurannya mirip dengan burung dara atau merpati. Dibuat sekurangnya dengan enam helai daun janur yang dalam bahasa Belitong disebut rinjong.  Mengingat banyaknya daun yang dipakai tentu saja butuh ketelitian dan kesabaran. Oleh karena demikian rumitnya  maka para orang tua membuat Ketupat Burong ini hanya dalam rangka permintaan khusus atau hanya demi menyenangkan hati anak-anak mereka setahun sekali.

Dulu tiap  menjelang lebaran  Aba selalu membuatkan aku dan adikku masing-masing satu buah Ketupat Burong. Saat ketupat itu dibuat Aba kami selalu duduk di hadapan beliau untuk memperhatikan. Mata kami bagai tak berkedip memperhatikan beliau bekerja. Mulai dari memilih daun rinjong yang paling baik, mengikuti aktraksi beliau yang kadang sampai harus menggunakan jempol kaki sampai pada proses akhir yaitu merapikan dan mengencangkannya.

Dan bagi kami, karena ini adalah ‘barang bernilai’  maka begitu diserah terimakan oleh Aba pada kami sendirilah yang merasa paling berwenang untuk mengurusnya. Mulai  dari mengisi ketupat ini lalu memasukkannya ke dandang, itupun dengan sangat hati-hati dan tentunya pada tumpukan teratas.

Saat direbus kami berulang kali memeriksanya. Takut penampilan Ketupat Burong kami rusak atau kurang menarik hanya gara-gara tertindih ketupat lain yang sangat ‘biasa’ dan tak begitu penting.  Umak yang memperhatikan kami dari jauh sampai geleng-geleng kepala melihatnya.

Dalam periode Lebaran itu, kesakralan dari Ketupat Burong ini ditunjukkan dengan kenyataan bahwa ketupat ini adalah selalu menjadi yang terakhir kami makan. Menurut kami arti ketupat itu adalah bukan hanya sekadar sejenis makanan seperti layaknya ketupat-ketupat lain. Lebih dari itu, bagi kami Ketupat Burong ini adalah sebuah karya monumental ayah kami yang hanya muncul setahun sekali. Bahkan seandainya bukan sejenis makanan,  ingin rasanya ia kami pajang di kotak kaca.

Begitulah kebanggaan kami terhadap Aba. Kebanggaan akan figur seorang ayah yang dimata kami adalah seorang yang serba bisa.

Kata Aba ilmu membuat ketupat adalah suatu yang wajib dipelajari oleh  seorang anak Melayu yang sudah beranjak dewasa. Alangkah malu katanya jika kita diketahui orang tak bisa membuatnya. Lagipula di kampung kami memang tak lazim orang membeli kulit ketupat.  Kelak, kata beliau  melanjutkan, jika kami sudah bekeluarga kamipun bisa mewarisi budaya ini kepada anak-anak cucu kami. Sehingga paling tidak,  keluarga kita sendiri  sudah berusaha menjaga dan memelihara budaya warisan leluhur kita ini.

Sesungguhnya pula setiap menjelang lebaran, Aba selalu mengajarkanku untuk membuat berbagai jenis ketupat.  Namun sayang, karena malas dan tak sabar karena dulu kuanggap terlalu rumit  akhirnya aku hanya bisa membuat satu  jenis ketupat yang bagiku paling gampang, yaitu  Ketupat Jantong.

Ketupat Jantong ini bentuknya mirip seperti jantung manusia. Ketupat inipula yang menginspirasi para ahli ilmu ukur ruang buat mendiskripsikan sebuah bangunan geometri dengan sebutan Belah Ketupat. Yang terdiri dari empat buah segitiga siku-siku simetris.

Dulu bila keluarga kami membuat ketupat, bagian Ketupat Jantong selalu Aba serahkan padaku.  Dan anehnya pula kata Aba, aku membuat ketupat yang justru jarang dibuat orang.

Kini setiap menjelang lebaran tiba, saat dimana orang-orang dikampung kami tengah larut dalam kemeriahan hari kemenangan aku selalu terkenang saat-saat dimana kami dan Aba dulu bersama-sama membuat ketupat. Sementara itu disamping kami, Umak mengisinya dengan beras atau ketan.  Sebuah kehangatan dan kebahagiaan  yang tercipta melalui cara yang sederhana dan amat bersahaja.

Sumber : Pos Belitung/Hamdani

ANTU kudong antu kudong Jangan langkaek aku Kini kuberik minyak angin sebutul NITA bertutur. Cerita berjudul Takut Kan Antu Tepelok Kan Bangkai buah karya budayawan Fithrorozi mengalir dari bibirnya.

Mengenakan kebaya warna coklat dan rambut dikepang dua, pelajar SMPN 2 Tanjungpandan itu bercerita dengan cara atraktif. Ia melampiaskan ekspresi melalui bahasa, mimik wajah serta gerakan tangan.

Nita adalah salah satu dari 21 peserta lomba cerita rakyat Belitung yang digelar SMPN 2 Tanjungpandan, Senin (21/12). Para peserta yang berasal dari SMP dan SMA se-Kabupaten Belitung ini diharuskan menceritakan salah satu dari lima judul cerita yang disiapkan. Cerita-cerita karya Fithrorozi ini biasanya ditampilkan dalam rubrik Ngenjungak di Harian Pagi Pos Belitung edisi Minggu.

Lima judul cerita tersebut itu adalah Takut Kan Antu Tepelok Kan Bangkai, Kebuloran, Bila Saram Dusta, Masok Ambong Dak Masok Itong, serta Lepat Pulas Pekatik Mak Panggong. Selain menuturkan cerita keseharian masyarakat Belitung, para peserta memperkuat nuansa Belitung melalui penampilannya. Salah satunya dengan pakaian bernuansa Belitung yang memang diwajibkan oleh panitia.

Tim juri yang terdiri dari para pemerhati budaya Belitung, yakni Rosihan Sahib, Fithrorozi serta Rahini pun lekat-lekat mengamati penampilan tiap peserta. Mereka menyimak kriteria penilaian yang mencakup konteks, intonasi, dialog, juga penampilan.

Kepala SMPN 2 Tanjungpandan Nuraini kepada Grup Bangka Pos di sela kegiatan menuturkan ide lomba ini berawal dari rutinitasnya membaca Pos Belitung edisi Minggu, termasuk rubrik Ngenjungak. Membaca Ngenjungak, kata Nuraini, bisa dipahami dalam hati. Akan tetapi setelah disuarakan ternyata kaku dan ada isi kata-kata yang tidak dimengerti.

“Nah, apalagi dengan yang muda-muda? Karena kebanyakan anak-anak muda ini merasa tidak gaul pakai bahasa itu. Jadi saat terpikir akan hal itu langsung mengontak Fithrorozi, sang penulis, untuk mempertanyakan boleh tidaknya kalau seandainya dilombakan. Dilombakan pasti seru,” tutur Nuraini.

Setelah mendapat tanggapan positif dari Fithrorozi, Nuraini langsung meminta pendapat guru-guru bahasa Indonesia dan ternyata juga mendapat dukungan. Lalu tersusunlah acara lomba cerita Rakyat Belitung ini yang merupakan hasil kerjasama guru, OSIS, didukung penulis cerita, serta Harian Pos Belitung.

Melalui lomba tersebut bisa diukur sejauhmana pemahaman para pelajar terhadap bahasa Belitung. “Mudah-mudahan dari kegiatan ini memunculkan motivasi tentang pemikiran baru dari pihak-pihak yang berkompeten di bidang ini. Untuk berpikir apa yang sudah kita lakukan untuk budaya kita,” harap Nuraini.

Peduli Budaya Beberapa pelajar yang ditemui harian ini menyatakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari bukan berarti menunjukkan seseorang ‘tidak gaul’. Pemakaian bahasa daerah justru dapat mecerminkan kepedulian dan sikap melestarikan budaya daerah. Bahkan sejak suksesnya film Laskar Pelangi, ada orang-orang yang sebelumnya jarang berbahasa Belitung karena tinggal di luar daerah, malah jadi ingin terus berbahasa Belitung.

“Menggunakan bahasa Belitung bukan berarti tidak gaul. Saudara saya gara-gara nonton Laskar Pelangi jadi pengen terus pakai bahasa Belitung,” kata Nita, pelajar SMPN 2 Tanjungpandan, di sela lomba cerita Rakyat Belitung, Senin (21/12).

Nita merasa bahasa Belitung tidaklah tergolong sulit dan mudah dipelajari. Pelajar kelas VIII ini dalam kesehariannya biasa bercakap-cakap memakai bahasa Belitung. Bahasa Indonesia juga tetap ia gunakan, misalnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Aldi, pelajar SMAN 2 Tanjungpandan, juga merasa penggunaan bahasa Belitung dalam kehidupan sehari-hari tidaklah menunjukkan bahwa seseorang itu tak modern.

“Tidak seperti itu,” kata Aldi yang berpartisipasi sebagai peserta dalam lomba cerita rakyat Belitung. Aldi tetap menggunakan bahasa Belitung dalam komunikasi sehari-hari. Sedangkan Bahasa Indonesia biasanya ia pakai untuk keperluan formal, seperti kegiatan belajar di sekolah. Jika sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia, Aldi merasa bahasanya akan campur aduk dengan bahasa Belitung yang sering spontan terucap. Kadang-kadang jika Aldi melontarkan kosa kata dalam bahasa Belitung yang mungkin pada sebagian teman lainnya agak terdengar asing, maka kata-kata itulah yang akhirnya sering digunakan. “Bahasa Belitung tidak susah,” katanya.

Menurut Aldi, ada sebagian kata-kata dalam bahasa Belitung yang terkadang tidak ia mengerti, seperti beberapa kosa kata yang ia temukan dalam kolom Ngenjungak karya Fithrorozi. Namun hal itu ia siasati dengan cara bertanya pada orang tuanya.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Ria Permata dari SMPN 1 Sijuk terpilih menjadi juara pertama kategori SMP, Nita Inggrianti dari SMPN 2 Tanjungpandan sebagai juara kedua, dan Rendi Dwi Okta dari SMPN 4 Tanjungpandan sebagai juara ketiga.

Untuk kategori SMA, juara pertama diraih Lestari dari SMA PGRI Tanjungpandan. Juara kedua oleh Leni dari MAN Tanjungpandan dan juara ketiga oleh Desi Indriyani dari SMKN 1 Tanjungpandan. Para juara mendapat hadiah berupa tropi, uang pembinaan, piagam serta novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Seluruh peserta juga mendapat piagam tanda kepesertaan lomba. (vid)

Dikutip dari : Pos Belitung

Budaya Beransai

Pengertian beransai adalah bersantai atau relaks gaya Belitong. Syarat beransai adalah bila pekerjaan beres, perut kenyang dan pikiran tenang.

Prosesi Beransai dilakukan pada siang hari saat dengan duduk dilantai beralaskan tikar misalnya lalu bersandar pada tiang atau dinding rumah sambil meluruskan kedua kaki. Keanggunan dari komposisi tubuh demikian lalu diperindah lagi dengan sentuhan keramahan alam berupa angin semilir sepoy-sepoy. Lalu sempurnalah beransai. Dan klimaksnya manusia yang berbahagia itupun akhirnya tertidur.

Kebiasaan beransai ini diduga memasyarakat seiring dengan munculnya peradaban rumah panggung berlantai papan dikalangan masyarakat Melayu Belitong. Staruktur lantai papan yang sering susunannya sering merenggang karena mengkerut menciptakan kayu itu menimbulkan celah yang secara tak sengaja membuat sirkulasi udara menjadi semakin baik.

Jelasnya tiupan udara sejuk yang bergerak dari bawah kolong rumah yang disebut beruman ini, naik secara berirama melalui celah lantai lalu berputar-putar  di dalam rumah dan keluar lagi melalui pintu atau jendela. Sirkulasi udara inilah yang menciptakan kenikmatan sehingga orang kan betah berlama-lama beransai. Kenikmatan beransai juga menghasilkan ungkapan “Bansai” atau banzai ( Jepang ) yang berarti mantap, oke atau sip.

Berdasarkan siklus angin dan cuaca, peluang beransai akan banyak terjadi pada musim angin Timur yang lembut sekitar bulan Juni – Juli. Dan bila ditinjau dari sisi gender, wanita lebih banyak melakukan aktivitas beransai dibandingkan laki-laki. Alasannya cukup sederhana, karena perempuan relatif lebih banyak berada dirumah ketimbang laki-laki. Sedangkan bagi kaum ibu beransai dianggap sebagai ritual penutup selepas menunaikan pekerjaan rutin rumah tangganya seperti bebasun ( cuci piring ), beringkas ( beres-beres ), nyesa ( mencuci ), ngenjemor ( menjemur pakaian ), masak  dan mentanak ( menanak nasi ).

Aktifitas beransai kadangkala dibumbui dengan aktifitas budaya lain yakni Mengkutuan. Yaitu sebuah bentuk pola interaksi sosial kaum wanita Melayu berupa kegiatan mencari kutu rambut secara berjamaah. Sangat disayangkan bBelakangan budaya Mengkutuan ini bisa dikatakan bergerak menuju kepunahan. Alasannya, selain dianggap sudah ketinggalan jaman atau sedikit kurang etis juga terganggu kelestariannya karena peredaran  obat pembasmi kutu. Dan tidak bisa dipungkiri memang, modernisasi dan kepraktisan kadang memang seringkali menjadi penyebab punahnya sebuah budaya.

Mungkin budaya beransai suatu saat akan lenyap dan tergantikan dengan duduk diskusi malas sambil nonton TV dalam dekapan dinginnya penyejuk udara. Sebuah contoh, budaya Ngendirikan Telasar misalnya pada prosesi begawai ( resepsi pernikahan ) sekarang sudah tergantikan perannya oleh budaya sewa menyewa tarub/tenda. Budaya Berage dan Makan Sedulang yang mengandung unsur pelayanan, penghormatan dan kebersamaan perlahan-lahan terkikis oleh budaya prasmanan ( makan ala Prancis ) tanpa layanan-tanpa penyajian alias mengambil sendiri-sendiri ( individu ).

Berkaitan dengan perlindungan terhadap budaya Belitong, salah satu kiat yang mungkin bisa kita lakukan adalah dengan senantiasa menghidupkan serta senantiasa menarik nilai moral, filosopi dan tujuan budaya itu di buat dengan bijak. Sebab tujuan budaya itu sendiri adalah titik kekuatan suatu budaya. Sebab seringkali sebuah budaya lenyap karena tujuan, nilai moral dan filosopi yang tidak jelas. Selain itu, konsep modernisasi, kemajuan, kepraktisan, efektifitas, efisiensi dan ekonomis perlu dicermati agar jangan sampai terlalu mengintervensi dan bersinggungan dengan ‘wilayah’ budaya.

Jakarta, Juli 2007


Bila dilihat sepintas, orang mungkin tak akan menyangka sahabatku ini adalah seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi ternama. Penampilannya begitu sederhana, tapi bila sudah menjelaskan tentang sesuatu, ruang pemikiran kita langsung membuka lebar, melebihi apa yang disampaikannya.

Harton adalah satu dari sekian banyak orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu, ruang dan kesempatan. Berbekal ilmu tentang perikanan air tawar yang sudah lama digelutinya mulai dari bangku kuliah hingga menjadi dosen, akhirnya sahabatku ini membuka sebuah usaha yang sangat menjanjikan.

Halaman belakang rumahnya seluas kurang lebih 200 m2 disulap menjadi lahan budi daya ikan hias merangkap ‘ruang praktikum’, ‘ruang seminar’, tempat kumpul-kumpul, sekaligus sebagai ‘etalase’ raksasa.

Ia memulai bisnisnya dari melakukan pengembiakkan ikan hias melalui penyuntikan hormon fertilitas untuk merangsang pembuahan. Awalnya  dengan mengembangbiakkan ikan guppi, sejenis ikan hias yang sering di cari anak-anak di saluran-saluran air untuk dipelihara di dalam toples.

Seiring makin bertambahnya keyakinan dan pengalaman akhirnya membawa Harton kepada budi daya ikan hias yang jauh lebih berkelas dan lebih bernilai, yaitu ikan alligator. Pada saat itu harga ikan ini cukup mahal di pasaran ikan hias. “Alhamdulillah berkat ikan alligator ini, kami bisa membeli rumah” kenang Bang Harton dengan nada merendah.

Sampai saat ini mungkin sudah puluhan jenis ikan hias yang sudah dipeliharanya. Ada satu jenis ikan yang menarik perhatian yaitu ikan hias yang dijuluki “Dr. Fish”. Ya, ikan yang menjadi ‘dokter’ alias ikan yang bisa memberikan terapi penyembuhan khususnya pembersihan atau pengangkatan kulit mati. Menurut Harton, ikan ini berasal dari negeri Turki, dalam bahasa Turki namanya “Garra Rufa”. Bentuknya tubuhnya sepintas mirip ikan kemuring yang biasa dipakai masyarakat di Belitong sebagai umpan “bebanjor”.

Bang Harton memang bertangan dingin untuk berurusan dengan ikan. Saat kami berbincang dihalaman belakang rumahnya Minggu sore itu, terlihat bagaimana ia ‘berinteraksi’ dengan ikan-ikan patin berukuran besar saat melemparkan makanan ikan berupa konsentrat. Dari bahasa tubuhnya aku menduga,  boleh jadi bagi Harton, mungkin pada moment seperti inilah sebagian saat  terindah dalam hidupnya. Saat-saat memandangi dan ‘bercengkrama’ dengan ikan-ikan peliharaan mungkin bisa menjadi semacam hiburan guna menghilangkan kejenuhan.

Hari itu kami berdiskusi tentang banyak hal.  Sampai kepada cara beternak ikan lele,  gara-gara tak sengaja menjumpai buku tentang usaha itu di ruang tamu. Semakin dijelaskan, semakin kami kagum dan termotivasi. Sampai akhirnya tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 5.

Sore yang indah itu segera berganti malam. Esok pagi Bang Harton akan kembali mengabdi pada negara dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa,  bertemu dengan para mahasiwanya untuk memberikan kuliah. Dua ‘dunia’ saling berebut perhatian namun Pak Dosen Harton sangat bijak membagi waktu. Sesekali ia meluangkan waktu untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan para sahabatnya. Kendati demikian ‘roda’ tetap berputar di halaman belakang.

( Taman Pagelaran, Minggu 28 Maret 2010 )

Rezeki di dalam buku

Foto Aba kami ( sumber : wartapraja.wordpress.com)

Ini sebagian pengalaman berharga masa kecilku. Dulu saat aku masih kecil kuanggap apa yang dilakukan Aba –panggilan kami untuk ayah– adalah sesuatu yang biasa. Tak lebih dari sekadar menciptakan sebuah kejutan sekaligus ingin memberikan sesuatu secara diam-diam.

Baru setelah dewasa, berumah tangga dan mempunyai anak, aku jadi mengerti bahwa apa yang beliau lakukan puluhan tahun lalu itu ternyata mengandung pesan pendidikan yang sangat bernilai.

Aba kami adalah seorang guru SD. Dan lazimnya para pendidik yang lain, beliau banyak mengoleksi berbagai buku. Sebagian diantaranya adalah buku-buku literatur yang dapat memperkaya wawasan beliau buat disampaikan kepada murid-muridnya saat mengajar, mulai dari ilmu pedagogik sampai kepada kisah dongeng. Salah satunya tentang kisah novel terjemahan berjudul “Baron Van Ovheysen”. Kisah-kisah jenaka pada buku ini seringkali beliau ceritakan pada kami dengan tenik bercerita yang sangat menarik.

Berbagai buku koleksi beliau itu disimpan pada sebuah lemari buku yang diletakkan menghadap ruang tamu,  menempel pada dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ada dua pemikiran yang cukup masuk akal menurutku tentang mengapa lemari buku itu beliau letakkan sedemikian rupa disitu. Pertama, karena keterbatasan ruangan sehingga mungkin itulah tempat yang paling baik dirumah kami buat menempatkan lemari buku itu,  selain dapur dan kamar tidur. Yang kedua dengan meletakkannya dilokasi tersebut maka lemari buku menjadi benda yang paling gampang dilihat atau menarik perhatian setiap kali memasuki rumah.

Saat aku masih SD dulu, oleh karena keterbatasan wawasanku, tak banyak buku-buku beliau yang dapat kumengerti isinya. Namun suatu hal yang menarik adalah Aba seringkali memasukkan lembaran uang kertas seratus rupiah di dalam halaman salah satu buku. Polanya berganti-ganti dari satu buku ke buku yang lain dengan jarak kira-kira sebulan sekali. Sebagai ukuran, dengan nilai uang seratus rupiah pada masa itu kami bisa membeli es sebanyak 20 potong. Jumlah yang cukup besar bila digunakan sebagai uang jajan sekolah.

Pernah sekali waktu kuceritakan tentang ‘penemuan’ ku tentang uang itu pada Aba. Beliau tak banyak berkomentar. Hanya mengisyaratkan  bahwa beliau telah mengikhlaskan uang itu.  Disisi lain  aku juga selalu menjaga agar setelah uang didalamnya ‘kuamankan’ maka sebisa mungkin susunan buku di lemari itu kembali seperti semula. Ketika kuceritakan bagaimana kegembiraanku mendapatkan ‘rezeki’ itu pada Umak–panggilan kami untuk ibu–, Umak berkesimpulan bahwa lembaran uang itu memang sengaja diletakkan Aba di dalam buku sebagai simpanan khusus bila sewaktu-waktu beliau kehabisan uang.

Kini 30 tahun sudah berlalu. Dan anak kami yang kedua laki-laki pun sudah berusia sama dengan usiaku dulu saat peristiwa ‘rezeki’ didalam buku itu.  Baru terpikirkan olehku, boleh jadi lembaran uang seratus rupiah yang dulu selalu beliau selipkan dalam buku itu adalah sebuah cara untuk memotivasi kami agar mencintai buku dan gemar membaca.

Kelekak

Dalam lingkup keanekaragaman hayati dan hasil bumi di Belitong, salah satu yang mungkin akrab ditelinga kita saat tiba musim buah-buahan adalah sebuah tempat yang disebut dengan Kelekak.

Kelekak adalah istilah masyarakat Belitong untuk sebuah hutan kecil yang banyak ditumbuhi oleh tanaman buah musiman yang mana melalui kepemilikan secara adat dianggap menjadi milik salah seorang anggota masyarakat setempat.

Umumnya tanaman buah yang mendominasi kelekak adalah durian, duku, langsat atau manggis . Tanaman buah-buahan ini disamping ada yang memang sengaja ditanam oleh sang pemiliknya adapula yang tumbuh dengan sendirinya secara alami.

Sekedar bernostalgia, berikut saya sampaikan beberapa istilah lama yang umum dipakai di lingkungan Kelekak.

Pundok
Pundok adalah gubuk kayu yang dibangun pemilik di dalam kelekak untuk
bermalam atau beristirahat. Sekaligus sebagai gudang penyimpanan sementara buah-buahan.

Ngerepak
Istilah ini khusus dipakai untuk tanaman durian.  Ngerepak adalah kegiatan menunggu durian yang jatuh atau repak dari pohon. Oleh karenanya durian yang dijual di Belitong umumnya berkualitas baik karena terdiri dari buah  durian yang telah matang di pohon.

Untuk kegiatan ngerepak ini biasanya para petani akan menginap barang 1-2 malam di pundok kelekak. Setelah buah-buah durian hasil ngerepak sudah   terkumpul cukup banyak, kemudian secara bertahap dibawa ke kampung sebagai konsumsi keluarga dan handai taulan atau dibawa ke pasar untuk di jual.

Muang Burok
Istilah ini dipakai untuk menyatakan buah-buahan ( biasanya durian ) yang termasuk dalam kelompok buah-buah yang pertama kali matang. Buah yang masuk dalam kelompok Muang Burok ini biasanya memiliki kualitas buah yang kurang bagitu baik. Masyarakat juga percaya bahwa bunga durian yang pertama kali muncul dalam tiap musim dan kemudian menjadi buah adalah bunga-bunga yang secara kualitas masih belum  sempurna. Maklum pembuahan pada awal musim rentan terhadap pengaruh iklim pancaroba, baik oleh hujan dan angin maupun oleh serangan hama. Disamping itu periode pembuahan di awal musim  dianggap masih belum memasuki masa pembuahan yang paling baik untuk menghasilkan buah yang optimal.

Oleh karenanya buah-buah yang dihasilkan dari bunga pertama ini bisa diartikan buah-buah yang memang dianggap rusak ( burok ) oleh pohon durian itu sendiri atau dengan ‘sengaja’ terpaksa dikorbankan sebagai tumbal untuk kebaikan pada buah berikutnya.

Buah Ujong
Kebalikan dari istilah Muang Burok. Istilah Buah Ujong ini dipakai untuk menyatakan buah-buahan ( biasanya durian ) yang termasuk dalam kelompok buah yang terakhir
kali matang. Berlawanan dan buah Mung Burok, buah Ujong adalah buah yang bunganya baru muncul setelah musim berbuah akan berakhir. Sehingga buah yang dihasilkan pada periode ini termasuk kategori buah yang proses pembuahannya melewati masa yang paling tepat. Sama seperti Muang Burok, buah-buahan yang masuk dalam kelompok Buah Ujong juga memiliki kualitas buah yang kurang baik.

Mempirangan
Istilah ini dipakai khusus untuk buah manggis yang sedang dalam perkembangan buah mencapai matang atau dengan kata lain buah setengah matang. Buah manggis dalam masa mempirangan ini biasanya berwarna merah muda.

Nuto
Nuto adalah istilah yang untuk meregenerasi cabang pohon yang baru, biasanya istilah ini dipakai untuk tanaman rambutan.

Setelah berbuah dan dipanen, masyarakat pemilik tanaman akan membersihkan dahan yang berbuah lalu memotong atau memangkas dahan yang pernah berbuah tadi agar memancing kembalinya cabang baru untuk menghasilkan buah pada musim berbuah tahun depan.

Dahan yang di tuto biasanya adalah dahan pohon yang mencuat atau menjulang keatas, sehingga  diharapkan nantinya dengan seringnya nuto maka pertumbuhan pohon diharapkan tidak menjadi semakin tinggi akan tetapi melebar, rindang sekaligus merendah sehingga memudahkan proses pemetikan.

( Sumber inspirasi : Sutra Indaini )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.